Eskalasi militer di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di bagian selatan Iran pada Rabu dini hari waktu setempat.
Media lokal Iran melaporkan wilayah Sirik, Pulau Qeshm, dan Minab di Provinsi Hormozgan menjadi target operasi yang diduga kuat melibatkan pesawat tempur AS.
>>> Purbaya Yudhi Sadewa: Kenaikan Harga Pertamax Minim Dampak Inflasi
Warga di kawasan tersebut melaporkan terdengarnya sedikitnya enam kali ledakan besar.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi adanya proyektil yang menghantam Kota Sirik dan beberapa proyektil lain yang jatuh di Pulau Qeshm.
Pihak berwenang setempat belum memberikan rincian mengenai tingkat kerusakan maupun potensi korban jiwa.
>>> Kurs Rupiah 10 Juni 2026 Melemah Tipis ke Level Rp 17.965 per Dolar AS
Langkah Taktis Iran
Iran segera mengambil langkah taktis dengan mengaktifkan sistem pertahanan udara di beberapa titik strategis, termasuk Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik.
Selain itu, empat ledakan juga mengguncang kawasan Pelabuhan Jask, serta satu ledakan di pinggiran Bandar Abbas.
>>> Saat Nikel Bullish, Smelter RI Tertekan Biaya Energi dan Harga Ore
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa pihaknya telah memulai operasi militer tersebut.
CENTCOM menyebut aksi ini sebagai tindakan pertahanan diri yang dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS sebelumnya.
Hingga saat ini, baik pemerintah Iran maupun AS belum merilis keterangan resmi mengenai skala operasi penuh serta dampak menyeluruh dari serangan.
>>> Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026
Situasi ini dinilai para pengamat dapat meningkatkan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan memengaruhi pasar energi global.