⌂ Beranda News AS Serang Balik Iran di Selat Hormuz, Pasar Global Bergejolak
News

AS Serang Balik Iran di Selat Hormuz, Pasar Global Bergejolak

Ilustrasi serangan militer AS terhadap Iran di Selat Hormuz
Ilustrasi serangan militer AS terhadap Iran di Selat Hormuz
A A Ukuran Teks16px

Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan balasan terhadap Iran pada Selasa (9/6/2026) malam.

Serangan ini menyusul insiden ditembak jatuhnya helikopter Apache milik AS di atas Selat Hormuz.

Ketegangan baru di Timur Tengah ini langsung meruntuhkan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Aksi militer tersebut memicu gejolak instan pada pasar keuangan global.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa serangan balasan tersebut merupakan tindakan bela diri yang proporsional. Seluruh kru helikopter yang jatuh dilaporkan berhasil diselamatkan.

Dampak pada Pasar Keuangan

Lonjakan volatilitas merefleksikan kecemasan investor terhadap potensi perluasan konflik bersenjata di kawasan strategis tersebut. Investor global mulai mengalihkan modal ke instrumen investasi safe haven.

Komoditas minyak mentah jenis Brent melonjak hingga US$ 93 per barel.

Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Kenaikan harga energi mendadak diproyeksikan menjadi ancaman baru bagi laju inflasi global. Kondisi ini juga berpotensi menunda rencana pemangkasan suku bunga acuan oleh sejumlah bank sentral.

Aset digital Bitcoin justru anjlok ke bawah level US$ 62.000, turun sekitar 2 persen dalam 24 jam.

Langkah pelepasan aset kripto ini dipicu kecemasan meluasnya konflik regional.

Sementara itu, harga emas bergerak melemah di kisaran US$ 4.220 per troy ons. Penurunan dipengaruhi oleh penguatan dolar AS serta ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.

Pihak Iran melayangkan kecaman keras terhadap tindakan militer AS. Pemerintah Iran menilai serangan balasan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Eskalasi bersenjata ini terjadi di tengah Operation Epic Fury yang bergulir sejak akhir Februari 2026.

Operasi militer besar yang digalang AS dan Israel ini menyasar kapabilitas militer serta fasilitas nuklir Iran.

📰 Update Terbaru