Perusahaan global F5 merilis laporan tahunan State of Application Strategy (SOAS) terbaru.
Laporan ini mengungkap bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) kini telah beralih dari inisiatif eksperimental menjadi beban kerja tahap produksi.
>>> Timnas Kirgistan Uji Coba Lawan Palestina pada Juni 2026
Laporan tersebut disusun berdasarkan tanggapan dari ratusan pemimpin IT dan keamanan korporasi global. Hasilnya menunjukkan 78 persen organisasi kini menjalankan AI inference secara mandiri demi mengutamakan kendali operasional.
Kompleksitas operasional terjadi di tengah kondisi 93 persen organisasi yang beroperasi di berbagai platform cloud. Selain itu, 86 persen mendistribusikan aplikasi mereka di lingkungan hybrid multicloud.
Tantangan Keamanan dan Tata Kelola AI
Country Manager F5 Indonesia Surung Sinamo menjelaskan tantangan saat ini bergeser pada pengamanan lalu lintas AI inference.
Pengelolaan identitas agen AI dan penegakan kebijakan keamanan yang konsisten di seluruh lingkungan juga menjadi perhatian.
"Seiring dengan semakin tersebarnya workload AI, kontrol keamanan bergeser lebih dalam ke layer prompt, token, API, dan identitas.
>>> Timor Leste Pastikan Tiket Grup A ASEAN Championship 2026
Hal ini membuat visibilitas yang terpadu serta tata kelola AI menjadi sangat krusial bagi organisasi di Indonesia," kata Surung Sinamo.
Pergeseran ini menuntut strategi penyediaan, keamanan, dan tata kelola yang terpadu. Tujuannya untuk mengatasi kerumitan dalam deployment AI lintas lingkungan.
"Keseimbangan ini mengurangi silo, meminimalkan gangguan operasional, dan mempertahankan tata kelola dalam skala besar. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan biaya, akurasi, dan availability," tambah Surung.
Chief Product Officer di F5 Kunal Anand menyoroti perubahan fase AI dari eksperimentasi menuju operasional penuh.
"Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perusahaan akan menggunakan AI, melainkan apakah mereka dapat menjalankannya secara andal, aman, dan dalam skala besar," ujar Kunal Anand.
>>> John Herdman Rotasi Posisi Pemain Jelang Laga Melawan Mozambik
Kunal Anand menambahkan bahwa AI inference kini menjadi bagian inti bisnis. Penyediaan teknologi tersebut berubah menjadi tantangan manajemen lalu lintas jaringan dan pengendalian.
Head of Solutions Engineering F5 Indonesia Danang Wijanarko memaparkan data bahwa saat ini organisasi mengoordinasikan rata-rata tujuh AI model dalam tahap produksi.
Kawasan Asia Pasifik, China, dan Jepang menggunakan rata-rata 3 hingga 4 model.
"Pergeseran ini menekankan pentingnya tata kelola operasional pada sistem AI. Inference harus diperlakukan sebagai workload terkelola dan berbasis policy, terintegrasi ke dalam stack aplikasi," ujar Danang Wijanarko.
Data laporan menunjukkan 88 persen organisasi telah menghadapi tantangan keamanan terkait AI.
>>> Komdigi Evaluasi Mandiri 175 Platform Digital untuk Lindungi Anak
Sebanyak 98 persen lainnya bersiap mengadopsi agentic AI yang membutuhkan identitas serta hak akses khusus layaknya pengguna manusia.