Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang relaksasi target rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara periode 2026.
Langkah ini diambil untuk menyesuaikan perkembangan harga komoditas global yang dipengaruhi fluktuasi geopolitik Timur Tengah.
>>> Kemendag Terbitkan Aturan Baru untuk Perkuat Ekosistem E-commerce
Penyesuaian Produksi Berdasarkan Harga
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan relaksasi akan dilakukan secara terukur.
"Kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi.
Kalau harganya mulai mentok, kita juga akan membuat kebijakan agar supply and demand itu bisa kita jaga," ungkapnya.
Gejolak politik di Timur Tengah diakui menjadi faktor utama penentu naik turunnya harga komoditas di pasar internasional.
"Maka idealnya pemerintah atau pengusaha atau rakyat pun berkepentingan untuk harga yang bagus, produksi kita juga harus banyak," tambah Bahlil.
>>> Undip Buka Jalur Mandiri S1 Berbasis Nilai UTBK 2026 Tanpa Tes Tambahan
Target RKAB 2026 dan Realisasi 2025
Sebelumnya, target volume produksi dalam RKAB 2026 ditetapkan sebesar 600 juta ton. Jumlah ini menurun signifikan dibanding target tahun sebelumnya yang 735 juta ton.
"Urusan RKAB, Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. [Hal] yang jelas di sekitar 600 juta.
Kurang lebih. Bisa kurang, bisa lebih dikit," kata Bahlil.
Pemangkasan kuota di awal tahun dirancang untuk mendorong penguatan harga jual batu bara.
Sementara itu, realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton.
"Total produksi batu bara kita di 2025 sebesar 790 juta ton," tegas Bahlil.
>>> Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard
Capaian itu turun 5,5 persen dibanding realisasi 2024 yang sebesar 836 juta ton.
Proses Pengajuan Revisi Kuota
Proses pengajuan revisi kuota produksi untuk tahun depan akan berjalan melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara mulai bulan depan.
"Kalau mengajukan, ya Juli, paling lambat 31 Juli," ungkap Dirjen Minerba Tri Winarno.
Kementerian ESDM menegaskan penentuan porsi kuota baru akan tetap mempertimbangkan potensi penerimaan negara.
"Kita akan menjual mineral dan batu bara sesuai dengan harga yang seharusnya. Jangan juga obral terlalu murah, tetapi jangan juga sampai kebutuhan kita terganggu," kata Tri Winarno.
>>> Prabowo: Indonesia Diuntungkan Perang Dagang AS-China
Berdasarkan data hingga pertengahan Mei, grafik produksi menunjukkan tren menurun namun nilai pendapatan negara tetap stabil.