⌂ Beranda News Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard

Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard

Allegra Isdar Sampaikan Pidato Riset Pendidikan Papua di Wisuda Harvard
Allegra Isdar menyampaikan pidato wisuda di Harvard Graduate School of Education
A A Ukuran Teks16px

Allegra Jade Dreanda Isdar, mahasiswi asal Indonesia, terpilih sebagai pembicara mahasiswa pada wisuda Harvard Graduate School of Education (HGSE).

Ia menyampaikan pidato yang mengangkat pengalaman riset pendidikan di Papua.

>>> Psikolog Ungkap Alasan Cemburu Retroaktif Sering Dikira Gejala OCD

Perempuan berusia 20 tahun itu lulus dari program Master of Education (MEd). Ia membawa refleksi mendalam tentang pendidikan yang lahir dari risetnya di Papua.

Melalui pidatonya, Allegra mengajak para lulusan melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang manusia yang mengalaminya secara langsung. Ia membuka pidato dengan hangat dan menyelipkan candaan tentang cuaca cerah.

Di balik suasana hangat, Allegra menyampaikan pelajaran penting yang didapatnya selama di HGSE. Pelajaran itu berawal dari sebuah sepeda di ruang kerja Prof. Fernando Reimers di Gutman Library.

"Kita takkan pernah berhenti menjelajah.

Pada akhirnya, setelah semua penjelajahan kita, kita akan tiba di tempat kita memulai dan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya," ujar Allegra dalam pidato wisudanya, dikutip dari tayangan YouTube Harvard Graduate School of Education, Sabtu, 6 Juni 2026.

"Sebelum kita memecahkan suatu masalah, kita harus terlebih dahulu bertanya: siapa yang mendefinisikannya?" lanjutnya.

Sejak pertama masuk HGSE, Allegra memiliki keinginan besar membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Keinginan itu lahir dari pengalamannya menyaksikan ketimpangan pendidikan di Indonesia.

Dalam statement of purpose-nya, ia ingin membantu mengubah realitas pendidikan bagi pelajar di Indonesia. Ambisi tersebut membawanya mengambil mata kuliah yang diajar oleh Prof. Fernando Reimers.

Melalui mata kuliah tersebut, para mahasiswa berperan sebagai analis kebijakan dan konsultan riset yang bekerja bersama klien nyata.

Bagi Allegra, pengalaman itu menjadi kesempatan menerapkan idealisme yang dimilikinya.

Dalam salah satu proyek perkuliahan, tim Allegra mendapat kasus yang berlokasi di Papua, Indonesia.

Klien mereka menghadapi persoalan guru yang tidak datang ke sekolah sehingga banyak anak tidak memperoleh pembelajaran.

Menurut dia, masalah di dunia nyata tidak pernah hadir dalam bentuk yang sederhana dan pasti. Sebaliknya, persoalan tersebut sering kali berlapis, kompleks, dan penuh ketidakpastian.

Allegra mengatakan manusia cenderung ingin menyelesaikan persoalan dengan cepat, sederhana, dan terlihat elegan. Cara berpikir itu yang sempat mendominasi pendekatan timnya selama mengerjakan proyek di Papua.

"Namun, bagi tim saya dan proyek ini, semakin banyak penelitian yang kami lakukan, semakin rumit pula masalahnya.

Dan kami mulai meyakini bahwa masalah sistemik yang besar membutuhkan solusi sistemik yang kompleks," ujar dia.

Berbekal keyakinan tersebut, Allegra datang ke sesi konsultasi bersama Reimers dengan penuh optimisme. Ia merasa telah menemukan solusi terbaik yang mampu menjawab persoalan yang mereka hadapi.

"Kita akan memantau para guru dengan aplikasi ini, lalu mereka akan mengunggah foto, dan mereka akan menggunakan foto-foto itu, dan kita akan mengikat mereka dengan insentif, dan begitulah cara kita akan membuat semua guru datang," kata dia.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru