⌂ Beranda News Harga Emas Spot Turun ke US$ 4.313 per Ons Akibat Kekhawatiran Suku Bunga AS

Harga Emas Spot Turun ke US$ 4.313 per Ons Akibat Kekhawatiran Suku Bunga AS

Harga Emas Spot Turun ke US$ 4.313 per Ons Akibat Kekhawatiran Suku Bunga AS
Grafik harga emas spot menurun
A A Ukuran Teks16px

Harga emas di pasar spot melemah 0,4% ke level US$ 4.313,11 per ons pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Pelemahan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

>>> Pelaku Usaha Tinggalkan Marketplace, Beralih ke Kanal Penjualan Mandiri

Laporan tenaga kerja AS yang solid menjadi pemicu utama sentimen negatif tersebut.

Data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang kuat selama tiga bulan berturut-turut hingga Mei.

Pasar kini memperhitungkan peluang 72% bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebelum akhir Desember 2026.

Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menegaskan bahwa inflasi yang membandel dapat memaksa bank sentral AS bertindak lebih cepat.

Analis pasar senior di OANDA Kelvin Wong mengatakan pasar bereaksi terhadap sikap hawkish yang tercermin dalam Fed futures.

>>> Bupati Luwu Luncurkan Program Jaga Desa Bersama Masmindo Dwi Area

Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS kian menekan emas karena menawarkan keuntungan lebih menarik.

Di sisi lain, harga minyak dunia melonjak melampaui US$ 3 per barel akibat eskalasi konflik Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak memperparah kecemasan inflasi global, memberi alasan bank sentral mempertahankan atau menaikkan suku bunga.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga merosot 0,7% ke level US$ 4.336,30.

Penurunan ini melanjutkan tren negatif akhir pekan lalu saat emas anjlok sekitar 3% ke titik terendah sejak 24 Maret 2026.

Tekanan koreksi juga melanda komoditas logam mulia lainnya.

>>> Diversifikasi Daging dan Frozen Food Pacu Penjualan TGUK

Harga perak melemah 0,4% ke US$ 67,56 per ons, platinum turun 0,5% ke US$ 1.767,15, sementara paladium stabil di US$ 1.225,66.

Emas secara tradisional berfungsi sebagai aset safe haven dan lindung nilai inflasi.

Namun, emas memiliki hubungan terbalik dengan suku bunga acuan bank sentral.

Saat suku bunga naik, biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas meningkat, mendorong investor beralih ke obligasi.

Kondisi geopolitik akibat ketegangan di Iran yang mengerek harga energi menciptakan dilema moneter.

>>> Menteri ESDM Pastikan Stok Gas Domestik Aman, Harga Jadi Tantangan

Inflasi tinggi menuntut pengetatan kebijakan di tengah kebutuhan stimulasi ekonomi, memicu volatilitas tinggi pada harga logam mulia.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru