Tekanan jual melanda pasar obligasi domestik, mendorong kenaikan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN).
Kondisi ini terjadi seiring pelemahan rupiah sebesar 0,57 persen ke posisi Rp18.129 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.
>>> Cara Cek dan Daftar SPMB Jawa Barat 2026 Lengkap
Kenaikan yield tertinggi terjadi pada tenor 5 tahun yang melonjak 18,5 basis poin (bps) ke 7,13 persen.
Tenor 2 tahun naik 13,5 bps menjadi 7,09 persen, dan tenor 3 tahun naik 12,4 bps ke 7,06 persen.
Yield tenor 8 tahun juga naik 15,3 bps ke 7,07 persen.
Sementara itu, yield tenor acuan 10 tahun naik 11,9 bps ke 6,99 persen, hampir menembus level 7 persen.
Posisi yield tertinggi saat ini dipegang tenor 1 tahun yang naik 3,8 bps menjadi 7,24 persen.
Angka ini merupakan level tertinggi untuk tenor 1 tahun sejak 2018.
Kondisi yield tenor 1 tahun yang melampaui yield tenor 10 tahun mengindikasikan kurva imbal hasil masih terinversi (inverted).
>>> IHSG Anjlok 3,63 Persen Akibat Tekanan Bursa Saham Asia
Fenomena ini mencerminkan tingginya ketidakpastian jangka pendek.
Akibatnya, investor menuntut kompensasi lebih besar untuk memegang surat utang jangka pendek karena risiko saat ini dinilai lebih tinggi dibanding prospek jangka panjang.
Faktor Pemicu dan Prospek
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, menilai pergerakan pasar SUN dipicu proses normalisasi kurva yield.
Selama ini, kurva dinilai terlalu terdistorsi akibat intervensi agresif otoritas.
"Kurva yield yang masih berbentuk inverted-humped diakibatkan intervensi berlebihan demi menjaga stabilitas rupiah dan cost of fund pemerintah tetap rendah," ujar Lionel.
Menurutnya, kondisi ini semakin sulit dipertahankan karena menurunnya kepercayaan pasar terhadap prospek fiskal domestik.
>>> Polda Metro Jaya Bebaskan Syarat KTP Pemilik Lama untuk Pajak Kendaraan
Defisit fiskal dalam basis trailing twelve months (TTM) per Mei telah mencapai 3,48 persen terhadap PDB.
Selisih imbal hasil antara SUN tenor 10 tahun dan US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 234,6 bps, lebih rendah dari estimasi nilai wajar 250-270 bps.
Dengan demikian, yield SUN 10 tahun dianggap lebih mencerminkan fundamental jika berada di kisaran 7,0-7,2 persen.
Tekanan juga datang dari pasar global.
Aksi jual terhadap obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) menguat setelah data ketenagakerjaan AS pada Mei menunjukkan pasar tenaga kerja yang tetap kuat.
Data tersebut memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga tambahan jika harga energi akibat ketegangan di Selat Hormuz mendorong inflasi.
Mega Capital Sekuritas memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun berpotensi naik ke kisaran 6,9-6,95 persen dalam perdagangan hari ini.
>>> BMKG Tetapkan Status Siaga Tsunami untuk Delapan Daerah di Sulut
Risiko kenaikan lebih lanjut masih terbuka jika tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi global berlanjut.
