⌂ Beranda News IHSG Berpotensi Uji Level Krusial 5.500 Akibat Minim Katalis Positif

IHSG Berpotensi Uji Level Krusial 5.500 Akibat Minim Katalis Positif

IHSG Berpotensi Uji Level Krusial 5.500 Akibat Minim Katalis Positif
Grafik pergerakan IHSG
A A Ukuran Teks16px

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan kembali tertekan hingga menguji level krusial 5.500 pada awal pekan ini.

Minimnya sentimen positif dari dalam negeri menjadi penyebab utama.

>>> Badan Gizi Nasional Ubah Strategi, Fokus Manfaatkan Fasilitas yang Ada untuk Makan Bergizi Gratis

Para pelaku pasar saat ini menanti rilis sejumlah data makroekonomi penting Indonesia pada pertengahan Juni.

Data tersebut meliputi cadangan devisa per Mei 2026 pada 8 Juni, indeks keyakinan konsumen pada 10 Juni, dan laporan penjualan ritel per April 2026 pada 11 Juni.

"Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," tulis Phintraco Sekuritas.

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup anjlok 4,2 persen ke posisi 5.594,7.

Tekanan jual dipicu respons negatif pasar terhadap rumor dan ketidakjelasan kebijakan pemerintah, termasuk rencana revisi aturan kelembagaan.

"Di antaranya revisi UU P2SK yang memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan terhadap independensi lembaga keuangan," sebut Phintraco Sekuritas.

>>> Strategi Fiskal Adaptif Jaga Ketahanan APBN dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Kelesuan bursa saham berjalan seiring depresiasi rupiah sebesar 0,46 persen ke level Rp 18.049 per dolar AS.

Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat sebelum jadwal resmi pada 17-18 Juni 2026.

Di sisi fiskal, Kementerian Keuangan mengumumkan realisasi APBN per Mei 2026 defisit Rp 180,4 triliun atau 0,7 persen dari PDB.

Angka ini melonjak dari defisit periode sama tahun lalu sebesar Rp 20,9 triliun, namun masih di bawah target total APBN 2026 sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Proyeksi pemulihan bursa dalam jangka pendek diprediksi baru terjadi mulai pertengahan hingga akhir Juli 2026.

>>> TNI AU Kerahkan Pesawat Angkut untuk Kirim Tujuh Tower Darurat ke Sumut

"Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya empat bank terbesar Indonesia, telah menyerap sebagian besar tekanan tersebut," tulis Erindra Krisnawan, analis BRI Danareksa Sekuritas.

Meredanya tekanan terhadap rupiah pada kuartal III juga dipandang menjadi faktor pendorong pemulihan pasar finansial. "Faktor musiman tersebut diperkirakan mereda memasuki kuartal III," ungkap Erindra Krisnawan.

Faktor penopang lainnya adalah meredanya efek geopolitik global dan fluktuasi komoditas minyak dunia yang diperkirakan segera mencapai puncaknya.

"Namun, faktor-faktor tersebut belum menyelesaikan persoalan risiko peringkat kredit maupun ketidakpastian kebijakan yang lebih luas.

Namun, kami menilai kondisi tersebut cukup untuk memicu pemulihan pasar saham dalam jangka pendek," jelas Erindra Krisnawan.

Menghadapi volatilitas tinggi, BRI Danareksa Sekuritas merevisi target IHSG 2026 dari level 9.440 menjadi 7.200.

>>> 6 Barang Sederhana di Rumah yang Menunjukkan Karakter Orang Tua Baik

Perusahaan merekomendasikan strategi penempatan portofolio pada saham-saham pilihan seperti BBCA, ANTM, TINS, dan ICBP.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru