Rutinitas hair removal seperti mencukur, waxing, dan threading kini menjadi bagian perawatan diri banyak orang. Namun, melakukannya terlalu sering justru menyimpan risiko bagi kesehatan kulit.
Menurut dokter kulit Dr. Chandani Jain Gupta, tindakan destruktif berlebihan pada rambut halus dapat mengganggu stabilitas pertahanan kulit.
Efek negatifnya meliputi flare-up, infeksi, iritasi, hingga gangguan mikrobioma kulit.
Metode pembersihan yang agresif berisiko merusak skin barrier atau lapisan pertahanan terluar kulit. Jika lapisan ini rusak, bakteri patogen lebih mudah berkembang biak di permukaan kulit.
Proses mencukur dapat memicu luka kecil dan iritasi, sedangkan waxing serta threading sering menyebabkan kemerahan. Pemilik kulit sensitif menghadapi risiko lebih tinggi mengalami kondisi inflamasi.
Gangguan pada Mikrobioma Kulit
Hair removal intensif juga mengganggu mikrobioma kulit, yaitu komunitas mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang hidup di permukaan kulit.
Mikroba ini berperan penting dalam mengatur hidrasi, peradangan, dan mencegah iritasi.
Folikel rambut berfungsi sebagai lingkungan mikro yang mendukung keseimbangan komunitas tersebut.
Ilmuwan Dr. Debojyoti Dhar menjelaskan bahwa gangguan konstan pada folikel akan berdampak langsung pada ekosistem mikroba di sekitarnya.
Rusaknya sistem perlindungan alami ini membuat kulit lebih rentan terhadap kekeringan, peradangan, dan sensitivitas berlebih.
Dr. Debojyoti menambahkan bahwa ritual eksfoliasi sebelum dan sesudah perawatan dapat mengikis minyak alami yang dibutuhkan mikroba baik.
Tindakan mencukur juga memicu mikroabrasi yang tidak kasat mata tetapi tetap merusak skin barrier.
Sementara itu, waxing yang mencabut rambut hingga ke akar memicu tingkat peradangan tertentu pada jaringan kulit.
Sebagai solusi alternatif yang lebih aman, metode laser yang ditangani tenaga profesional sangat direkomendasikan.
"Laser hair removal lebih kecil kemungkinannya menyebabkan iritasi kulit dibandingkan mencukur, waxing, atau threading," ujar Dr. Chandani.