Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,77 pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026).
Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran dan kemerosotan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik yang dinilai lambat direspons pemerintah.
>>> Megawati Resmikan Pameran Seni Rupa Mata Hati Soekarno di Bantul
Data menunjukkan pelemahan ini memperpanjang tren negatif IHSG yang jatuh 9,7 persen dalam empat hari beruntun dan merosot 8,69 persen dalam sepekan.
Posisi ini menjadi yang terendah sejak November 2020. Catatan rekor penurunan empat pekan beruntun mencapai 21,13 persen, mendekati krisis subprime mortgage tahun 2008.
Kapitalisasi Pasar Menguap Rp6.833 Triliun
Akibat jatuhnya indeks, kapitalisasi pasar IHSG menguap hingga Rp6.833 triliun dari titik puncaknya pada 19 Januari 2026 yang sempat menyentuh Rp16.640 triliun.
Nilai kapitalisasi yang hilang tersebut setara dengan hampir dua kali lipat APBN Indonesia tahun ini yang berjumlah Rp3.842 triliun.
Kapitalisasi pasar tersisa Rp9.807 triliun.
Arus modal keluar investor asing mencatatkan nilai bersih Rp7,39 triliun dalam pekan ini.
Kumulatif mencapai Rp57,63 triliun sepanjang tahun berjalan, atau Rp78 triliun dalam 12 bulan terakhir.
>>> Kementerian PU Matangkan Rencana Uji Coba Ulang Sistem MLFF
Penurunan nilai juga dialami emiten raksasa PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp818 triliun sehingga posisinya tergeser oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Kekhawatiran Status Emerging Market
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyoroti keterlambatan respons pemerintah terhadap penurunan kepercayaan pasar.
Kendati demikian, ia melihat adanya upaya komunikasi awal yang mulai dibuka oleh pihak berwenang bersama pelaku industri.
"Bisa dibilang begitu (pemerintah terlambat respon pasar), namun kabar baik dari kebijakan kita bisa lihat dari diskusi jajak pendapat yang diinisiasi MPR bersama para praktisi dari industri pasar modal pada Kamis lalu," ujar Faris.
Faris menjelaskan bahwa salah satu kecemasan utama investor bersumber dari potensi turunnya status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Ketidakpastian arah kebijakan dan aspek kepatuhan mandat investasi institusi global dengan dana kelolaan besar mendorong pengurangan eksposur aset di Indonesia secara masif.
"Untuk institusi, tentu akan ada review apakah pasar Indonesia masih investible atau tidak.
Sehingga, penurunan yang terjadi saat ini karena masih menunggu status dari pasar Indonesia apakah masih di emerging market atau tidak," paparnya.
>>> Presiden Prabowo Kosongkan Dua Kursi Wakil Menteri Kabinet
Kondisi eksternal mencatat bursa utama Asia lain seperti Hang Seng Hong Kong turun 1,15 persen, Nikkei Jepang terkoreksi 1,31 persen, dan Shanghai Composite China melemah 0,74 persen.
Namun, Faris menekankan bahwa ketidakpastian bisnis domestik yang tidak dapat diprediksi membuat bursa Indonesia tertinggal dari reli pasar negara berkembang lainnya.
"Tentu hal ini akan membuat investor institusi mengurangi eksposur mengingat ada faktor mandatory investment grade sebagai aspek kepatuhan, dengan dana kelolaan yang besar tidak heran jika hal tersebut membuat penurunan IHSG dari segi performa maupun likuiditas," pungkas dia.
Faris menyatakan bahwa pasar saat ini membutuhkan kejelasan regulasi serta komunikasi yang lebih intensif guna memulihkan kepercayaan investor global.
"Selain ketidakpastian mengenai status market, dari sisi investor asing mengkhawatirkan kepastian bisnis yang tidak predictable.
Sehingga pasar Indonesia tidak ikut serta dalam rally emerging market setelah sentimen Timur Tengah mereda," lanjut Faris.
Pemerintah diharapkan segera menanggapi poin-poin krusial yang menjadi perhatian para pelaku pasar demi menstabilkan likuiditas.
>>> KAI Tambah Frekuensi LRT Jabodebek pada Jam Sibuk Mulai Senin
"Langkah konkret yang sedang disiapkan pemerintah kita tidak tahu, tetapi pemerintah harusnya menanggapi apa yang menjadi kekhawatiran market dan MPR menginisiasi diskusi untuk mendengar masukan dari pelaku pasar," imbuhnya.