⌂ Beranda News Pahami Tahap Parallel Play untuk Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Pahami Tahap Parallel Play untuk Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Pahami Tahap Parallel Play untuk Optimalkan Tumbuh Kembang Anak
Anak balita sedang bermain paralel dengan mainan di dekat teman sebaya
A A Ukuran Teks16px

Fase bermain menjadi instrumen penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Melalui aktivitas ini, anak dapat mengasah kemampuan kognitif dan kompetensi sosial sejak dini.

Salah satu tahap krusial adalah parallel play atau bermain paralel. Fase ini merujuk pada kondisi ketika anak bermain secara mandiri di dekat anak lain tanpa interaksi langsung.

>>> Universitas Darunnajah Dorong Wakaf Produktif untuk Pendidikan dan Bisnis

Tahap ini umumnya berlangsung pada masa balita hingga usia prasekolah. Meski berada di lokasi sama dan menggunakan mainan serupa, alur permainan antar-anak tidak saling terhubung.

Bermain paralel berperan sebagai fondasi awal bagi kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Fase ini memberi kesempatan anak mengamati lingkungan dan meniru perilaku teman sebaya.

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh sosiolog Mildred Parten Newhall. Ia menjelaskan transisi bermain anak dari bermain sendiri saat bayi hingga bermain bersama saat prasekolah.

Praktisi perkembangan anak usia dini, Gabrielle Felman, LCSW, memberikan pandangannya.

"Orang tua mungkin melihat anak memainkan mainan yang sama tepat di samping anak lain, tetapi bahasa bermain dan alur permainan mereka sama sekali tidak saling berhubungan," imbuhnya.

Melalui fase ini, anak belajar menerima kehadiran orang lain di ruang bermain. Mereka dapat mengamati cara anak lain berbicara, berlatih berbagi, dan melihat interaksi orang dewasa.

Menurut Felman, fase ini biasanya mulai muncul pada usia 18 hingga 24 bulan.

Tahap bermain paralel umumnya berakhir saat anak menginjak usia 3 hingga 4 tahun, saat mereka beralih ke cooperative play.

"Semakin banyak paparan dan kesempatan berlatih berada di sekitar teman sebaya, semakin cepat anak bisa beralih menuju fase bermain kooperatif," papar Felman.

>>> Badan Investasi dan Bisnis IPB University Buka Lowongan 9 Posisi

Durasi fase ini bervariasi pada setiap individu. Faktor lingkungan, perkembangan personal, dan keberadaan saudara kandung turut memengaruhinya.

Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Meskipun wajar terjadi, ada beberapa dinamika dalam bermain paralel yang perlu dipahami orang tua. Hubungan pertemanan dalam fase ini cenderung belum masuk ke tingkat yang akrab.

Psikolog klinis Christie Ferrari, PsyD, menjelaskan bahwa tidak adanya interaksi mendalam membuat hubungan anak tetap di tingkat awal.

"Kecuali jika keakraban itu memang sudah terbentuk sebelumnya," kata Ferrari.

Tantangan lain muncul apabila kebutuhan antara anak dan temannya tidak selaras. Misalnya saat salah satu anak ingin mengobrol sementara yang lain ingin tenang.

Menurut Ferrari, ketidaksesuaian ini berpotensi menimbulkan rasa kesal atau kecewa.

Cara Mengoptimalkan Sesi Bermain

Orang tua dapat mengambil peran aktif untuk mendukung kelancaran fase bermain paralel.

Dokter anak sekaligus juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP), Natasha Burgert, MD, FAAP, menyarankan penyediaan jenis mainan yang serupa.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru