Nilai Bitcoin turun hingga 7 persen ke US$59.101 pada perdagangan Jumat, menembus level US$60.000 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024.
Aset digital terbesar ini kehilangan lebih dari setengah nilainya sejak rekor tertinggi di atas US$126.000 pada Oktober tahun lalu.
>>> Harga Yamaha Aerox Alpha Naik Rp 200 Ribu per Juni 2026
Penurunan dipicu oleh pergeseran minat pasar dari kripto ke kecerdasan buatan (AI), yang kini menjadi tren investasi dominan di kalangan institusi.
"Untuk waktu yang sangat lama, kripto adalah investasi populer yang menjadi obsesi Silicon Valley dan berbagai institusi — dan AI telah menggantikannya," ujar Michael Antonelli, ahli strategi pasar di Baird.
Ia menambahkan bahwa peralihan ini terjadi secara sederhana di pasar modal. "Sesederhana itu: AI telah menggantikannya sebagai tren investasi yang populer."
Selain faktor AI, penarikan dana investor dari ETF Bitcoin, ketegangan geopolitik, dan kekhawatiran berkurangnya sumber permintaan utama turut menekan harga.
>>> Harga Emas Terancam Lanjutkan Pelemahan Setelah Tembus Support
Langkah Strategy Inc. milik Michael Saylor yang mengumumkan penjualan token pekan ini juga memicu kekhawatiran terkait model kas aset digital.
Koreksi Bitcoin memicu penurunan mata uang kripto lain.
Ether anjlok 13 persen ke level terendah sejak April 2025, sementara XRP, Solana, dan Dogecoin melemah lebih dari 5 persen.
Padahal, industri kripto baru mendapatkan regulasi lebih ramah di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
>>> Menkeu Purbaya Tanggapi Isu Jual Indonesia Terkait Rupiah dan IHSG
Namun, rekor tertinggi Bitcoin justru diikuti aksi jual besar-besaran akibat likuidasi taruhan miliaran dolar dan konflik di Iran.
Kekhawatiran inflasi global membuat investor lebih memilih emas dibanding Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil langsung.
"Jika emas bersaing dengan dolar AS, maka Bitcoin secara efektif bersaing dengan likuiditas global," kata Dean Chen, analis di bursa kripto Bitunix.
Chen menilai tingginya biaya modal saat ini mendorong investor mengurangi alokasi ke aset digital.
>>> Bisnis Kripto Keluarga Trump Raup Pendapatan Rp 2,7 Triliun
"Ketika pasar semakin yakin bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan biaya modal akan tetap tinggi, investor secara alami mengurangi alokasi ke aset yang tidak menghasilkan imbal hasil."