Harga emas diperkirakan masih rentan melanjutkan tren penurunan pada pekan depan.
Komoditas logam mulia ini telah menembus level support jangka panjang dan mencatat koreksi lebih dari 4% dalam sepekan.
>>> Menkeu Purbaya Tanggapi Isu Jual Indonesia Terkait Rupiah dan IHSG
Tekanan terhadap emas dipicu oleh solidnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta kenaikan yield US Treasury.
Kekhawatiran inflasi yang meningkat membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Kitco News, harga emas spot ditutup pada kisaran US$ 4.328 per ons troi pada Jumat (5/6/2026).
Nilai tersebut mencerminkan penurunan lebih dari 4% dalam sepekan akibat gagal mempertahankan area support rata-rata pergerakan 200 hari.
Kondisi pasar tenaga kerja AS yang kokoh menjadi penekan utama setelah nonfarm payrolls mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja pada Mei.
Angka tersebut berada jauh di atas perkiraan pasar sebelumnya.
>>> Bisnis Kripto Keluarga Trump Raup Pendapatan Rp 2,7 Triliun
Akibatnya, investor mulai mengurangi harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS. Beberapa pelaku pasar bahkan mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali meroket.
Prospek dan Level Teknikal
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler menjelaskan bahwa penguatan sektor tenaga kerja dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan emas di bawah rata-rata pergerakan 200 hari.
"Harga emas terlihat cukup berat.
Setelah kembali berada di bawah level tersebut, area US$ 4.367 menjadi level teknikal penting yang perlu diperhatikan," ujarnya.
Fokus pasar pada pekan depan akan tertuju pada rilis indeks harga konsumen (CPI) pada Rabu dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis.
Jika data inflasi AS melampaui ekspektasi, peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin terbuka.
Analis senior FxPro Alex Kuptsikevich memproyeksikan harga emas masih berisiko jatuh menuju area US$ 4.250 per ons troi dalam jangka pendek.
>>> Badai Cedera Landa Empat Klub J-League Jelang Laga Akhir Pekan
"Semakin sering area support jangka panjang diuji, semakin besar peluang terjadinya penembusan. Risiko penurunan masih mendominasi dalam jangka pendek," katanya.
Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady menyampaikan pandangan serupa mengenai potensi pengujian kembali area US$ 4.128 per ons troi.
"Emas masih berpotensi menguji kembali area US$ 4.128 per ons troi yang menjadi titik terendah pada Maret lalu," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Asset Strategies International Rich Checkan berpendapat bahwa koreksi yang terjadi saat ini sudah berlebihan sehingga membuka peluang akumulasi.
"Tingginya inflasi global, ketidakpastian geopolitik, serta berlanjutnya pembelian emas oleh bank sentral dunia masih menjadi fondasi kuat bagi pergerakan harga emas dalam jangka panjang," tuturnya.
Founder dan Executive Director B2PRIME Group Eugenia Mykuliak menambahkan bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh benturan aksi ambil untung jangka pendek dan permintaan strategis bank sentral.
>>> PLN Bangun Tower Darurat Pulihkan Listrik di Sumatera Utara
"Selama bank sentral masih terus membeli emas dan risiko global tetap tinggi, fundamental emas sebagai aset safe haven masih sangat kuat," ujarnya.