Bank Indonesia (BI) bersama otoritas fiskal menyepakati dua strategi penguatan koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kesepakatan ini diumumkan dalam konferensi pers di Gedung DPR RI pada Sabtu (6/6/2026).
>>> Indosat SheHacks 2026 Dorong UMKM Perempuan Kuasai AI
Langkah penstabilan nilai mata uang tersebut ditempuh melalui peningkatan daya tarik imbal hasil investasi dan pengelolaan likuiditas pasar.
Hal ini dilansir dari Bloomberg Technoz.
>>> Batal Jadi Paskibraka Nasional, Cathlyn Yvaine Raih Beasiswa Penuh ke China
Dua Strategi Utama
Upaya pertama difokuskan untuk memicu kembali aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik. Tujuannya guna meredam dampak kenaikan suku bunga di luar negeri.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan bunga luar negeri menyebabkan outflow di saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan kecil di Sekuritas Rupiah BI (SRBI).
"Maka itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan imbal hasil untuk inflow kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," paparnya.
>>> Vivo X Fold6 Dikabarkan Bawa Baterai Jumbo 6.900 mAh
Strategi kedua adalah pengaturan arus kas negara yang ditempatkan pada bank sentral. Hal ini dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan.
"Dengan demikian, operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskal juga mendukung. Dua hal itu kami lakukan," kata Perry Warjiyo.
>>> BI dan Kemenkeu Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Stabilkan Rupiah
Mekanisme penataan likuiditas ini juga dibarengi dengan kebijakan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan oleh Bank Indonesia kepada pemerintah.