Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 3,47 persen ke level 5.637 pada sesi II perdagangan Jumat (5/6/2026).
Penurunan tajam terjadi sekitar pukul 14.10 WIB dengan 622 saham melemah dan 101 saham stagnan.
Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan pelemahan dipicu reaksi pelaku pasar terhadap penguatan dolar Amerika Serikat.
Tingginya suku bunga global dan derasnya arus modal asing yang keluar juga menjadi faktor pendorong.
Kekhawatiran investor mengenai prospek pertumbuhan ekonomi domestik meningkat, sehingga memicu sikap defensif di pasar modal.
"Pelemahan yang terjadi beberapa hari berturut-turut menunjukkan tekanan jual belum mereda, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi target investor asing," ujar Reydi.
Ia menambahkan bahwa di tengah likuiditas menurun dan sentimen negatif, setiap rebound cenderung dimanfaatkan untuk profit taking atau pengurangan risiko.
Aksi kurangi eksposur terhadap pasar saham dalam negeri masih terus dilakukan pelaku pasar global.
"Fokus mereka lebih tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan ekonomi, dan peluang investasi di pasar lain yang lebih menarik," jelas Reydi.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi target utama pelepasan aset dengan koreksi 5,07 persen ke posisi Rp5.150.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) senilai Rp2,05 triliun pada sesi I.
Pelepasan saham BBCA oleh investor asing mencapai Rp734,3 miliar dengan volume 140,7 juta saham.
Secara akumulatif, nilai net sell saham BBCA menyentuh Rp432,9 miliar, memimpin daftar pelepasan saham oleh pemodal luar.
Proyeksi pergerakan IHSG jangka pendek diperkirakan masih volatil dan berpotensi melemah selama tekanan rupiah dan foreign outflow belum mereda.
Peluang technical rebound tetap terbuka jika stabilitas rupiah mulai terbentuk karena banyak saham unggulan kini berada pada valuasi menarik atau undervalued.