⌂ Beranda News IHSG dan Rupiah Ambles ke Level Terendah di Asia

IHSG dan Rupiah Ambles ke Level Terendah di Asia

IHSG dan Rupiah Ambles ke Level Terendah di Asia
Grafik IHSG dan nilai tukar rupiah melemah
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam lebih dari 2,5 persen pada jeda perdagangan Sesi I, Jumat (5/6/2026).

Pelemahan ini terjadi di tengah bursa Asia yang kompak melemah.

>>> PB ESI Umumkan Atlet Timnas Mobile Legends untuk ENC 2026

IHSG ditutup di level 5.692, turun 2,53 persen dari penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 5.673 hingga 5.860.

Volume perdagangan mencapai 25,25 miliar saham dengan nilai transaksi Rp21,08 triliun dari 1,32 juta kali transaksi.

Indeks LQ45 juga terperosok 2,46 persen ke level 566,6.

Seluruh sektor saham melemah, dengan penurunan terdalam di sektor transportasi (4,44 persen), keuangan (4,07 persen), dan energi (3,93 persen).

Sektor infrastruktur dan konsumen non-primer masing-masing turun 3,87 persen dan 3,26 persen.

>>> Bank Indonesia Siap Jalankan Mandat Baru Perluasan Peran Ekonomi

Top losers antara lain PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) yang ambles 14,8 persen, PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) turun 14,7 persen, dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) merosot 14,5 persen.

IHSG menjadi indeks berperforma terlemah di Asia sepanjang 2026 dengan akumulasi penurunan 34,17 persen year-to-date.

Sebagai perbandingan, KOSPI melemah 5,41 persen, TAIEX turun 1,33 persen, CSI 300 susut 1,24 persen, Hang Seng melemah 1,14 persen, NIKKEI 225 turun 1,1 persen, Shenzhen Comp.

terkoreksi 0,64 persen, Shanghai Comp. melemah 0,37 persen, Straits Times turun 0,19 persen, dan SETI berkurang 0,16 persen.

Tekanan di pasar modal diperparah oleh depresiasi rupiah yang menyentuh rekor All Time Low (ATL) di level Rp18.074 per dolar AS pada sesi intraday.

Rupiah melemah 0,05 persen menjadi Rp18.042 per dolar AS, menjadikannya mata uang terlemah di Asia dengan depresiasi 7,49 persen year-to-date.

>>> Prabowo Undang Tony Robbins Tinjau Program Makan Bergizi Gratis

Pelemahan rupiah dipicu kekhawatiran defisit fiskal dan transaksi berjalan yang membengkak menjadi US$4 miliar atau 1,1 persen dari PDB pada Kuartal I-2026.

Ketidakpastian kebijakan mendorong investor melepas obligasi pemerintah, menyebabkan inversi yield pada Surat Utang Negara (SUN).

Yield tenor 1 tahun melonjak hingga 7,18 persen, lebih tinggi dari tenor 10 tahun di 6,85 persen.

Struktur kurva imbal hasil yang tidak normal ini mendapat perhatian serius pelaku pasar.

"Jika kurva menjadi terbalik, artinya pasar lebih khawatir terhadap risiko jangka pendek, terutama kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, dan kebutuhan pemerintah menerbitkan SBN di tengah pasar yang rapuh," demikian paparan Josua, Jumat (5/6/2026).

>>> Satgas PKH Amankan Aset Negara Rp371,1 Triliun dari Pelanggaran Hutan

Yield tenor 2 tahun tercatat 6,94 persen, tenor 16 tahun 6,98 persen, tenor 20 tahun 6,98 persen, dan tenor 40 tahun 6,92 persen.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru