⌂ Beranda News Investor Lepas Surat Utang Negara Akibat Rupiah Melemah Tajam
News

Investor Lepas Surat Utang Negara Akibat Rupiah Melemah Tajam

Ilustrasi pelemahan rupiah dan surat utang negara
Grafik yield Surat Utang Negara Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut mendorong investor mengurangi kepemilikan Surat Utang Negara (SUN). Nilai tukar rupiah telah menembus Rp18.038 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026).

Data Bloomberg Technoz menunjukkan lonjakan imbal hasil di seluruh tenor obligasi.

Kenaikan tertinggi terjadi pada SUN tenor 11 tahun yang melonjak 11,1 basis poin menjadi 6,89 persen.

SUN tenor 5 tahun naik 8,4 bps ke 6,89 persen. Sementara tenor pendek 1 tahun naik 5,7 bps ke 7,17 persen.

Tenor acuan 10 tahun naik 3,4 bps menjadi 6,84 persen.

Tenor 4 tahun naik 3,6 bps ke 6,92 persen, dan tenor 3 tahun naik 3 bps ke 6,9 persen.

Kurva yield yang sebelumnya mengalami inversi kini mulai bergerak rata. Yield obligasi tenor 13 tahun tercatat di angka 7,03 persen.

Obligasi bertenor menengah dan panjang lainnya juga bergerak dinamis. Surat utang tenor 7, 8, 15, hingga 20 tahun diperdagangkan pada kisaran yield 6,89-6,95 persen.

Sentimen Domestik Memburuk

Lonjakan imbal hasil mencerminkan aksi lepas aset SUN oleh pelaku pasar. Langkah ini dipicu sentimen domestik yang dinilai semakin memburuk.

Sepanjang tahun ini, obligasi pemerintah Indonesia mencatat kerugian lebih dari 8 persen bagi pemegangnya. Kerugian terutama dialami investor yang menempatkan dana pada obligasi bermata uang dolar AS.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan obligasi pasar negara berkembang lain yang mencatat keuntungan 1,6 persen. Selain fluktuasi rupiah, pelaku pasar juga mencemaskan langkah Bank Indonesia.

Bank Indonesia semakin gencar menambah porsi kepemilikan surat utang pemerintah. Saat ini, otoritas moneter menguasai sekitar 27 persen dari total obligasi pemerintah.

Kebijakan ini memicu spekulasi dan pandangan kritis dari pengelola dana eksternal.

Rajeev De Mello, Manajer Portofolio Gama Asset Management SA, menilai langkah BI mungkin telah berubah menjadi bentuk quantitative easing.

Menurutnya, investor membutuhkan kejelasan mengenai batas akhir penambahan kepemilikan obligasi oleh bank sentral. Faktor lain yang menjadi kekhawatiran adalah risiko perubahan profil kredit Indonesia.

Pada kuartal pertama 2026, lembaga pemeringkat global seperti Fitch Ratings, Moody's, dan S&P Global melakukan evaluasi.

Moody's mengubah outlook profil kredit Indonesia menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

Fitch Ratings juga menggeser outlook menjadi negatif pada 4 Maret 2026. Kedua lembaga masih mempertahankan Indonesia dalam kelompok layak investasi.

Sementara itu, Standard & Poor's masih menyematkan outlook stabil sejak 2022. Peringkat ini menjadi indikator penting yang menentukan biaya penarikan utang negara di tingkat global.

📰 Update Terbaru