⌂ Beranda News Rupiah Tembus Rp18.074 per Dolar AS, Ini Dampak yang Mengintai

Rupiah Tembus Rp18.074 per Dolar AS, Ini Dampak yang Mengintai

Rupiah Tembus Rp18.074 per Dolar AS, Ini Dampak yang Mengintai
Grafik pelemahan rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,23 persen ke level Rp18.074 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026).

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif hari sebelumnya dan menembus angka psikologis Rp18.000.

>>> Bank Syariah Indonesia Bagikan Dividen Tunai Rp1,51 Triliun

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memaparkan sejumlah dampak signifikan yang akan terjadi jika situasi ini bertahan.

Lima Dampak Pelemahan Rupiah

Pertama, biaya impor energi, pangan tertentu, obat, alat kesehatan, bahan baku industri, dan komponen manufaktur akan meningkat.

Kedua, beban APBN berpotensi naik karena subsidi dan kompensasi energi menjadi lebih mahal, terutama saat harga minyak masih tinggi.

Ketiga, perusahaan yang memiliki utang valas atau kebutuhan impor besar akan menghadapi kenaikan biaya dan tekanan laba.

Keempat, bank dan lembaga pembiayaan dapat menjadi lebih berhati-hati karena risiko kredit meningkat.

Kelima, konsumsi rumah tangga dapat melemah jika harga barang naik dan cicilan kredit ikut meningkat.

>>> IHSG Anjlok 2,53% pada Penutupan Sesi I, Saham Bank Besar Tertekan

Josua menjelaskan bahwa pergerakan harga minyak dunia tidak serta-merta mengerek inflasi selama disubsidi. Namun, dampaknya akan sangat masif saat penyesuaian harga energi dilakukan.

"Risiko terbesar bukan inflasi hari ini, melainkan tekanan biaya yang menumpuk dan akhirnya harus dibayar oleh APBN, korporasi, atau konsumen," kata Josua.

Di sektor finansial, penembusan angka psikologis Rp18.000 telah memicu kejatuhan IHSG ke level terendah dalam hampir enam tahun terakhir.

Aksi jual oleh investor asing turut memperburuk situasi.

"Pelemahan rupiah tidak lagi bergerak pelan mengikuti fundamental, tetapi bisa dipercepat oleh kepanikan, posisi lindung nilai, dan perilaku ikut-ikutan pelaku pasar," ujar Josua.

>>> AS Terapkan Tarif Tambahan 10 Persen untuk Indonesia

Meski demikian, Josua menilai rupiah saat ini sudah berada di bawah nilai wajarnya.

Real Effective Exchange Rate (REER) Mei 2026 diperkirakan menunjukkan rupiah undervalued lebih dari 5 persen, dengan nilai wajar USD/IDR di bawah level Rp17.000.

Namun, status undervalued tidak menjamin rupiah akan langsung menguat akibat tingginya kecemasan investor terkait likuiditas dan kebijakan.

Josua mendesak Bank Indonesia mengambil tindakan agar pelaku pasar tidak menganggap level kurs saat ini sebagai hal yang lumrah.

Kemenkeu juga perlu memberi kepastian bahwa defisit tetap terkendali, subsidi energi dikelola transparan, dan penerbitan SBN tidak dipaksakan saat pasar meminta bunga terlalu mahal.

Untuk mengatasi hal ini, Josua menyarankan respons berlapis: Bank Indonesia memperkuat intervensi pasar, Kemenkeu menjaga transparansi fiskal, dan pemerintah memperjelas kebijakan DHE SDA.

>>> Aktor James Handy Meninggal Dunia Akibat Luka Tusuk di Los Angeles

Di sisi lain, OJK dan BEI didorong mempercepat reformasi pasar modal guna meredam tekanan eksternal.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru