Nilai tukar rupiah melemah 0,23 persen pada pembukaan perdagangan Jumat (5/6/2026) ke level Rp18.074 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu kegelisahan pasar terhadap ketidakpastian kebijakan domestik, melanjutkan tren negatif hari sebelumnya.
>>> IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.805 pada Sesi I Perdagangan
Depresiasi tersebut menempatkan rupiah sebagai mata uang terlemah ketiga di Asia sepanjang pekan ini, di bawah won Korea Selatan dan ringgit Malaysia.
Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah melemah 7,44 persen secara year-to-date. Penurunan paling signifikan terjadi pada kuartal kedua sebesar 5,79 persen.
>>> Brian Uriarte Bertekad Tampil Habis-habisan di Balaton Park
Kondisi ini menjadikan rupiah sebagai mata uang berkinerja paling buruk di Asia. Pelaku pasar terus menyoroti inkonsistensi kebijakan yang memicu kekhawatiran terhadap profil kredit investasi Indonesia.
Sejak pemerintahan saat ini berjalan, nilai mata uang lokal tercatat telah tergerus hingga 14 persen.
Fokus pada Data Fiskal
Kementerian Keuangan dijadwalkan mengumumkan rilis data kinerja fiskal terbaru melalui APBN KiTa hari ini.
>>> Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, dan BNI 5 Juni 2026 Tembus Rp 18.000
Sentimen dari laporan keuangan negara tersebut diproyeksikan akan memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah serta aset keuangan domestik lainnya.
Defisit anggaran belanja negara pada publikasi APBN KiTa edisi sebelumnya dilaporkan telah mencapai Rp164,4 triliun.
>>> Pemerintah Berpotensi Naikkan Porsi DMO Batu Bara Menjadi 30 Persen
Angka defisit tersebut setara dengan 0,64 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.