Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat jatuh ke level Rp18.020 pada Kamis, 4 Juni 2026 pagi.
Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan pembukaan di Rp17.960 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg Technoz.
>>> 5 HP Kamera Telefoto Terbaik 2026 untuk Konten Media Sosial
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi kesehatan fiskal, risiko penurunan peringkat utang negara, dan aksi jual saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut melemah, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik.
Peluang RDG Darurat BI
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai peluang Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat meningkat setelah rupiah menembus Rp18.000.
>>> 3 Cara Cek Kurs Rupiah ke Dolar AS Real Time Lewat HP
Namun, ia mengatakan rapat darurat belum menjadi rencana utama selama fungsi pasar berjalan normal dan intervensi valas masih efektif.
RDG darurat akan lebih mungkin jika pelemahan rupiah berubah menjadi tidak terkendali, misalnya bergerak cepat jauh di atas Rp18.000, likuiditas dolar menipis, dan permintaan dolar melonjak.
Josua menambahkan bahwa BI telah menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei, tetapi rupiah tetap melemah.
>>> Hyundai Rilis Daftar Harga OTR Mobil Juni 2026 di Indonesia
Faktor eksternal seperti keperkasaan dolar AS, tingginya imbal hasil di AS, konflik geopolitik Timur Tengah, dan ketidakpastian kebijakan domestik terus menekan rupiah.
Menurut Josua, kenaikan suku bunga tanpa dukungan kebijakan fiskal dan komunikasi pemerintah yang jelas akan berdampak terbatas.
Langkah penanganan memerlukan koordinasi lintas lembaga, termasuk BI, Kemenkeu, OJK, dan pemerintah, untuk mengembalikan stabilitas pasar.
>>> Bocah 7 Tahun di India Lolos dari Cuci Darah Usai Alami Gagal Ginjal Stadium Akhir
Paket kepercayaan yang menyatukan stabilisasi valas, kepastian APBN, kejelasan kebijakan ekspor komoditas, reformasi pasar modal, dan komunikasi yang tidak menambah kepanikan dinilai penting.