⌂ Beranda News Utang AS Mendekati US$40 Triliun, Harga Emas Diprediksi Tembus Rekor Baru

Utang AS Mendekati US$40 Triliun, Harga Emas Diprediksi Tembus Rekor Baru

Utang AS Mendekati US$40 Triliun, Harga Emas Diprediksi Tembus Rekor Baru
Grafik kenaikan harga emas global
A A Ukuran Teks16px

Lonjakan utang pemerintah Amerika Serikat yang mendekati angka US$40 triliun diprediksi mampu mendorong kenaikan harga emas hingga menembus angka psikologis baru dalam jangka panjang.

Harga emas spot global berada di kisaran US$4.486,51 per troy ounce pada 3 Juni 2026.

>>> KPK Temukan Bukti Aliran Suap Izin Imigrasi Era Silmy Karim

Nilai tersebut setara dengan Rp2,58 juta per gram menggunakan kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.883 per dolar AS.

Di dalam negeri, harga emas batangan tercatat bervariasi.

Treasury berada di angka Rp2.583.436 per gram, Pegadaian Rp2.675.000 per gram, Indogold Rp2.641.404 per gram, dan Antam sebesar Rp2.774.000 per gram per 29 Mei 2026.

Faktor Pendorong Kenaikan Emas

Faktor makroekonomi seperti defisit fiskal AS, diversifikasi cadangan devisa bank sentral, serta de-dolarisasi menjadi pendorong utama daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Fluktuasi harga juga dipengaruhi oleh sentimen geopolitik Timur Tengah. Termasuk perkembangan negosiasi diplomatik antara AS dan Iran terkait isu nuklir serta Selat Hormuz.

Kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, mengonfirmasi bahwa harga emas sempat mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut hingga Mei 2026.

Penurunan itu akibat tekanan imbal hasil dan penguatan dolar AS.

>>> IHSG Tertekan Sesi I Akibat Aksi Jual Saham Blue Chip oleh Asing

"Meskipun terjadi penurunan baru-baru ini, harga emas tetap naik 5% sejauh ini pada 2026, 36% selama setahun terakhir dan 91% selama dua tahun terakhir," kata Hansen.

Koreksi harga belakangan ini dinilai sebagai siklus jangka pendek. Investor masih cenderung menahan diri untuk melihat kejelasan situasi geopolitik global.

"Pasar telah menguji level ini dua kali selama koreksi baru-baru ini dan setiap kali menarik minat beli yang baru.

Hal ini menunjukkan bahwa investor jangka panjang tetap aktif di bawah pasar," jelas Hansen.

Pihaknya melihat bahwa pendorong struktural pasar akan kembali mendominasi perhatian pelaku pasar ketika fluktuasi harian komoditas energi mulai mereda.

"Untuk saat ini, banyak investor tampaknya puas menunggu kejelasan yang lebih besar mengenai konflik di Timur Tengah sebelum meningkatkan eksposur.

Namun, begitu perhatian beralih dari fluktuasi harian harga energi dan berita geopolitik, kami percaya pasar akan sekali lagi fokus pada pendorong struktural yang membantu menopang harga emas dalam beberapa tahun terakhir," imbuh Hansen.

Kombinasi antara guncangan pasokan energi dan tingginya inflasi saat ini menciptakan pola pergerakan pasar yang sedikit berbeda dari tren historis emas.

>>> Review Asus ExpertBook Ultra: Laptop Bisnis Tangguh Berotak Panther Lake

"Kemunduran baru-baru ini sekali lagi menyoroti perbedaan penting yang sering diabaikan oleh investor," kata Hansen.

Ia menambahkan bahwa emas biasanya menunjukkan performa terbaik ketika kenaikan inflasi diikuti oleh penurunan imbal hasil riil serta pelemahan dolar AS.

"Emas secara luas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, tetapi sifat guncangan inflasi itu penting," sambung Hansen.

Kondisi pasar saat ini dipengaruhi kuat oleh faktor eksternal dari sektor energi yang turut memperkuat posisi mata uang safe-haven pesaing emas.

"Tetapi situasi saat ini berbeda. Guncangan energi yang didorong oleh pasokan mendorong inflasi lebih tinggi sekaligus mendukung imbal hasil dan dolar.

Kombinasi ini dapat untuk sementara melemahkan daya tarik emas meskipun harga konsumen meningkat," jelas Hansen.

Pelaku pasar internasional kini menjadwalkan perhatian pada rilis data Klaim Tunjangan Pengangguran mingguan AS serta laporan data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls.

>>> Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran Rumah, Ini Langkah Antisipasinya

Data tersebut untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral ke depan.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru