Lembaga pemeringkat global Fitch dan Moody's merevisi prospek (outlook) Indonesia menjadi negatif. Langkah ini memicu kekhawatiran pelaku pasar modal terhadap kualitas tata kelola kebijakan pemerintah.
Revisi tersebut memperberat tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Kamis (4/6/2026) pagi, IHSG kembali jatuh 4,78 persen ke level 5.657.
>>> IHSG Anjlok 5 Persen ke Level Terendah Sejak Desember 2020
Kemerosotan itu menempatkan bursa saham domestik sebagai pasar dengan performa terburuk di dunia. Pelemahan ini melanjutkan penurunan hari sebelumnya yang anjlok 4,11 persen ke posisi 5.941.
Faktor Pemicu Pelemahan
Selain sentimen geopolitik perang Iran-Amerika Serikat, gejolak pasar diperparah oleh penyusutan kelas menengah.
Populasi kelas menengah turun dari 61,5 juta orang pada 2018 menjadi 46,6 juta pada 2026.
Surplus perdagangan April 2026 juga menyempit menjadi US$90 juta. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS turut membayangi situasi makroekonomi.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan bahwa permasalahan utama pasar saat ini terletak pada kredibilitas kebijakan.
>>> Pegadaian Turunkan Harga Emas Galeri 24, Antam, dan UBS
"Yang menjadi masalah utama bukanlah pertumbuhan ekonomi itu sendiri, melainkan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai kualitas kelembagaan, kepastian kebijakan, dan konsistensi pengambilan keputusan," jelas Liza.
Menurut Liza, penurunan populasi kelas menengah ikut memunculkan keraguan terhadap kekuatan jangka panjang mesin pertumbuhan Indonesia.
"Data terbaru menunjukkan bahwa populasi kelas menengah telah menurun dari sekitar 61,5 juta orang pada tahun 2018 menjadi sekitar 46,6 juta pada 2026, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kekuatan jangka panjang mesin pertumbuhan terpenting Indonesia," tuturnya.
Di sisi lain, aliran modal asing terus keluar melalui aksi jual bersih (net sell) meskipun valuasi IHSG saat ini tergolong murah dengan rasio P/E 9-11 kali.
Liza menambahkan bahwa komunikasi politik pemerintah dalam merespons tekanan pasar menjadi sorotan penting para investor.
"Ketidakpastian yang meningkat mengenai arah kebijakan dan pesan pemerintah berisiko memperpanjang krisis kepercayaan saat ini, meskipun kondisi makroekonomi yang mendasarinya masih jauh dari krisis keuangan yang parah," jelas Liza.
>>> Prabowo Larang Keras Korupsi Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erinda Krisnawan mengungkapkan bahwa Fitch menyoroti risiko ketidakpastian kebijakan dan beban belanja negara terhadap anggaran dalam revisi pada 26 Maret lalu.
Kebijakan usulan kenaikan royalti pertambangan dan ekspor komoditas satu pintu dinilai memperkuat sentimen negatif tersebut.
"Usulan kenaikan royalti pertambangan dan kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu kemudian semakin memperkuat kebisingan ketidakpastian kebijakan," kata Erinda.
Kondisi pasar modal Indonesia dalam dua minggu ke depan akan diuji oleh serangkaian agenda peninjauan dari penyedia indeks global.
Indeks FTSE Russell akan melakukan rebalancing efektif pada 22 Juni 2026, sementara MSCI dijadwalkan menggelar tinjauan klasifikasi tahunan pada 24 Juni 2026.
>>> Pemerintah Sepakat Naikkan HET Minyakita, Tunggu Harga CPO Stabil
"Tinjauan itu mewakili penilaian independen terhadap faktor-faktor yang paling dipedulikan oleh investor global, yakni aksesibilitas pasar, standar tata kelola, ketersediaan saham free float, transparansi, likuiditas, dan kelayakan investasi," pungkas Erinda.