ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) memperluas platform pendanaan di Indonesia untuk mendukung pengembangan infrastruktur pusat data STT Jakarta Campus.
Ekspansi ini mencakup pembangunan fasilitas STT Jakarta 3.
>>> Inspirasi Nama Bayi Laki-laki Jawa Keraton Dua Kata Beserta Artinya
Perusahaan meningkatkan fasilitas pendanaan dua mata uang (dual-currency) menjadi Rp8,8 triliun atau sekitar US$500 juta.
Fasilitas tersebut mencakup tranche pinjaman berjangka hijau (green term loan) perdana yang menjadi pendanaan hijau pertama STT GDC di Indonesia.
Country Head Indonesia ST Telemedia Global Data Centres Hendrikus Gozali mengatakan, transaksi tersebut dibangun di atas fasilitas pinjaman berjangka, pinjaman bergulir, dan trade facility yang telah dimiliki STT GDC Indonesia.
Perluasan platform pendanaan ini meningkatkan fleksibilitas dan skalabilitas perusahaan sekaligus mendukung pengembangan jangka panjang kampus pusat data STT Jakarta 1 hingga STT Jakarta 3.
"Transaksi ini merupakan langkah berikutnya dari platform pendanaan kami di Indonesia, yang memungkinkan kami untuk mendukung ekspansi berkelanjutan dari kampus STT Jakarta sekaligus memperkenalkan tranche pinjaman hijau pertama kami di dalam negeri," kata Hendrikus dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).
Langkah tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap Indonesia melalui perencanaan modal yang disiplin dan pengembangan infrastruktur digital berkelanjutan.
>>> Bank Indonesia Intervensi Pasar Saat Rupiah Tembus Rp17.925 per Dolar AS
Infrastruktur ini disiapkan untuk memenuhi permintaan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi berkinerja tinggi yang terus meningkat.
Menurut Hendrikus, tranche hijau tersebut telah diselaraskan dengan Green Loan Principles yang dikembangkan oleh Asia Pacific Loan Market Association (APLMA), Loan Market Association (LMA), dan Loan Syndications and Trading Association (LSTA).
Pendanaan itu juga mengacu pada taksonomi keuangan berkelanjutan yang relevan sebagai bagian dari upaya perusahaan mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam strategi pendanaannya.
"Struktur dua mata uang yang terdiri dari komponen USD dan IDR meningkatkan fleksibilitas pendanaan dan mendukung penerapan yang efisien di seluruh siklus hidup pengembangan infrastruktur STT Jakarta Campus," kata Hendrikus.
Fasilitas tersebut juga dilengkapi fitur yang memungkinkan ekspansi di masa depan sehingga perusahaan dapat menambah kapasitas sesuai kebutuhan pelanggan tanpa memerlukan perubahan struktur pendanaan secara mendasar.
Pendanaan ini memperoleh dukungan dari sejumlah bank mitra STT GDC Indonesia.
>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas, Hartadinata, dan Laku Emas 3 Juni 2026 Variatif
Fasilitas tersebut diatur oleh PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank HSBC Indonesia, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Sementara itu, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited bersama PT Bank OCBC NISP Tbk bertindak sebagai bank koordinator, sole green coordinator, dan agen fasilitas.
Hendrikus mengatakan tranche hijau tersebut akan digunakan untuk mendukung pembangunan STT Jakarta 3 yang berlokasi di Cikarang, Bekasi.
Fasilitas itu merupakan bagian dari STT Jakarta Campus yang ditargetkan memiliki kapasitas teknologi informasi lebih dari 360 megawatt (MW) setelah seluruh pengembangan selesai.
Menurut dia, STT Jakarta 3 dirancang untuk memenuhi kebutuhan beban kerja cloud, AI, dan komputasi berkinerja tinggi di Indonesia.
Fasilitas tersebut juga memiliki fleksibilitas untuk mendukung teknologi pendingin cair (liquid cooling) maupun pendingin udara tingkat lanjut (advanced air-cooling) guna mengakomodasi beban kerja generasi berikutnya dengan tingkat kepadatan yang lebih tinggi.
STT Jakarta 3 ditargetkan memiliki power usage effectiveness (PUE) sebesar 1,30 dan meraih sertifikasi LEED Gold.
>>> Sentimen Global dan Pelemahan Rupiah Tekan IHSG hingga Lima Persen
Fasilitas tersebut juga akan menggunakan sistem pendingin dengan tingkat global warming potential (GWP) yang sangat rendah sebagai bagian dari penerapan standar keberlanjutan perusahaan.