Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami penurunan tajam pada sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026).
Harga saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini merosot 9,94 persen ke level Rp145.
>>> Penyanyi Legendaris Peabo Bryson Meninggal Dunia di Usia 75 Tahun
Volume perdagangan tercatat sangat tinggi. Sebanyak 4,16 miliar saham BUMI ditransaksikan dengan frekuensi 63.946 kali.
Nilai transaksi mencapai Rp634,2 miliar.
Tekanan Jual Asing Dominan
Investor asing menjadi pendorong utama penurunan ini. Data Stockbit Sekuritas menunjukkan net sell asing mencapai Rp155,1 miliar hingga penutupan sesi I.
Tren negatif ini sudah terlihat sejak hari sebelumnya.
>>> Konflik Selat Hormuz Berpotensi Hambat Pengiriman Kapal Induk Giuseppe Garibaldi ke Indonesia
Pada Selasa (2/6/2026), net sell asing tercatat Rp20,80 miliar, dan harga saham BUMI terkoreksi 4,17 persen ke Rp161.
Perdagangan Selasa melibatkan 2,68 miliar saham dengan frekuensi 62.474 kali. Nilai transaksi mencapai Rp449,47 miliar.
Aksi lepas saham oleh asing sebenarnya sudah berlangsung sejak pekan lalu. Sepanjang 22-29 Mei 2026, net sell asing terakumulasi mencapai Rp242,17 miliar.
>>> Penggemar BTS di Taiwan Berdoa di Kuil Longshan Demi Tiket Konser
Koreksi beruntun ini membuat saham BUMI mayoritas memerah sepanjang Mei 2026. Dalam sebulan terakhir, harga saham sudah anjlok 32,92 persen.
Penurunan pada sesi I Rabu melampaui prediksi teknikal. CGS International Sekuritas sebelumnya memproyeksikan support pertama di 156 dan support kedua di 150.
Di tengah tekanan pasar, Bumi Resources mengumumkan anak usahanya, Arutmin, menerima fasilitas pinjaman Rp1,50 triliun pada 26 Mei 2026.
Pinjaman ini untuk modal kerja operasional harian.
>>> IHSG Ambruk 4 Persen, Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Rp17.925
Manajemen menyatakan dana tersebut berasal dari hasil Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I Tahap V.