Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 4 persen pada perdagangan sesi pertama Rabu, 3 Juni 2026, meninggalkan level psikologis 6.000.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG anjlok 4,02 persen ke posisi 5.946,67 menjelang siang. Sempat menguat ke 6.213,80 pada awal pembukaan.
>>> Fullerton Health Rampungkan Akuisisi AdMedika Group di Indonesia
Nilai tukar rupiah juga terperosok ke rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp17.925 per dolar Amerika Serikat.
Nilai transaksi bursa mencapai Rp13,14 triliun dengan volume 20,47 miliar saham. Kapitalisasi pasar menyusut ke kisaran Rp10.429 triliun hingga Rp10.454 triliun.
Kemerosotan dipicu aksi jual masif di hampir seluruh sektor. Sektor bahan baku turun 9,16 persen dan sektor kesehatan turun 7,15 persen.
Sebanyak 679 saham bergerak melemah.
>>> Suzuki XL7 Hybrid Dilengkapi Smart e-Mirror untuk Visibilitas Maksimal
Saham bank raksasa seperti BBCA dan BBRI menjadi beban indeks dengan kontribusi pelemahan masing-masing -16,39 poin dan -15,68 poin.
Faktor Eksternal dan Domestik Tekan Rupiah
Analisis BRI Danareksa Sekuritas menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal berupa tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan permintaan dolar AS sebagai aset aman.
Faktor domestik seperti kenaikan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri di kuartal II serta penyusutan surplus neraca perdagangan turut memperparah tekanan terhadap rupiah.
>>> Defisit Perdagangan Vietnam Tembus Rekor Akibat Lonjakan Harga Bahan Baku Global
Penurunan tajam IHSG juga dipengaruhi arus keluar modal asing yang deras pasca-efektifnya penyesuaian bobot portofolio atau rebalancing indeks MSCI per 1 Juni 2026.
Sepanjang tahun berjalan, investor asing telah membukukan aksi jual bersih senilai Rp64,82 triliun di Bursa Efek Indonesia.
Co Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee mengatakan, pasca rebalancing MSCI ini bisa jadi bottom dari penurunan IHSG dan berpeluang kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan di masa depan.
Hans Kwee menambahkan, langkah reformasi pasar modal oleh OJK dan SRO sejauh ini telah berhasil memperkuat transparansi serta integritas pasar.
>>> Toyota Luncurkan GRMN Corolla, Varian Paling Ekstrem untuk Penggemar Kecepatan
Kondisi pergerakan pasar domestik ini berbanding terbalik dengan mayoritas bursa di Asia yang bergerak di zona hijau, dipimpin oleh indeks Nikkei Jepang yang menguat 2,91 persen.