Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan tajam sebesar 3 persen pada sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026).
Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia itu turun ke level Rp 5.650 per lembar saham.
>>> IHSG Anjlok 1,44% ke 6.106 pada Perdagangan 3 Juni 2026
Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya saham BBCA mencatatkan penguatan sebesar 2,19 persen.
Tekanan Jual Asing dan Transaksi Tinggi
Data perdagangan mencatat sebanyak 104,25 juta saham BBCA telah ditransaksikan dengan frekuensi 26.196 kali.
Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 594,98 miliar.
>>> TelkomMetra Lepas Seluruh Saham AdMedika ke Fullerton Health
Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BBCA membukukan penjualan bersih oleh investor asing (net sell) sebesar Rp 229,6 miliar.
Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di antara saham-saham lain yang juga mengalami net sell pada hari yang sama.
Faktor Pelemahan Rupiah dan Geopolitik
Pelemahan saham BBCA terjadi bersamaan dengan tertekannya nilai tukar rupiah yang merosot 0,39 persen ke posisi Rp 17.900 per dolar AS pada pukul 09.26 WIB.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut posisi tersebut menjadi rekor terlemah baru atau all time low bagi rupiah terhadap dolar AS.
>>> Harga BBM Pertamina 3 Juni 2026: Pertamax hingga Dexlite Alami Penyesuaian
Kondisi ini dipicu oleh faktor eksternal berupa tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS.
Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) juga didorong oleh data tenaga kerja AS yang solid, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin berkurang.
Faktor domestik yang memicu pelemahan adalah peningkatan kebutuhan valuta asing pada kuartal II untuk pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri serta repatriasi investasi.
>>> PT Brantas Abipraya Salurkan 210 Hewan Kurban untuk Masyarakat
BRI Danareksa Sekuritas menambahkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia terus menyusut seiring peningkatan impor akibat kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi.