⌂ Beranda News Rupiah Dekati Rp 18.000, BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga

Rupiah Dekati Rp 18.000, BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga

Rupiah Dekati Rp 18.000, BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga
Grafik pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terus merosot hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan harga barang impor dan meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri.

>>> 11 Film Terbaru di Netflix Juni 2026 yang Wajib Ditonton

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (2/6/2026) pukul 14.05 WIB, rupiah di pasar spot melemah 29,5 poin atau 0,17% ke posisi Rp 17.834,5 per dolar AS.

Pergerakan ini berbalik arah dari hari sebelumnya yang sempat menguat.

Pada Senin (1/6/2026), rupiah menguat 76 poin atau 0,43% dan ditutup di level Rp 17.805 per dolar AS.

Fluktuasi ini menjadi perhatian para pengamat pasar keuangan.

Potensi Kenaikan Suku Bunga

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah berisiko mendongkrak harga berbagai komoditas impor. Padahal, barang-barang tersebut masih menjadi penopang utama kebutuhan domestik.

"Barang-barang impor seperti kacang kedelai, jagung, dan pupuk pasti akan berdampak negatif. Semua barang di dalam negeri kebanyakan adalah impor," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, lonjakan harga barang impor wajib diwaspadai karena menjadi pemicu utama inflasi yang lebih tinggi.

Jika tekanan terus membesar, Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar akan mengambil tindakan tegas.

"Ini kemungkinan besar akan berdampak terhadap inflasi. Pada saat inflasi tinggi, Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim.

>>> Julius Burphy Siap Gelar Kelas Kardio Stepper-Ton Masif di Jakarta

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan pada Mei 2026 mencapai 0,28%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang sebesar 0,13%.

Kenaikan indeks harga didorong oleh lonjakan harga pangan seperti cabai merah, minyak goreng, dan bawang merah.

Sektor transportasi juga ikut menyumbang inflasi akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur.

Ibrahim memproyeksikan penyesuaian BI-Rate sebesar 25 basis poin berpeluang besar diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.

"Bisa saja dalam pertemuan Juni ini Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 basis poin," katanya.

Sebagai catatan, pada RDG 19-20 Mei 2026, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25%, sementara lending facility berada di level 6,00%.

Faktor Pelemahan Rupiah

Ibrahim menilai volatilitas rupiah pada awal Juni 2026 dipengaruhi dua faktor utama.

Dari global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS menjadi beban berat bagi mata uang negara berkembang.

>>> Cara Cek Penerima Bansos BPNT Juni 2026 Online via Situs Kemensos

Dari dalam negeri, tingginya permintaan dolar AS untuk impor minyak dan komoditas strategis lainnya memperparah keadaan.

Jika tren ini berlanjut, biaya produksi industri terancam membengkak dan menggerus daya beli masyarakat.

Tantangan Sektor Manufaktur

Pelaku industri nasional saat ini dihadapkan pada lonjakan biaya input yang signifikan.

S&P Global mencatat inflasi biaya bahan baku telah menembus level tertinggi sepanjang sejarah survei PMI manufaktur Indonesia.

Banyak korporasi mulai membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Akibatnya, harga jual di tingkat produsen melesat dengan laju tercepat sejak Oktober 2013.

Kondisi operasional pabrik kian terhambat oleh kelangkaan pasokan bahan baku.

Fenomena ini memicu penumpukan pekerjaan (backlog) untuk pertama kalinya sejak Februari 2026 karena perusahaan kesulitan memenuhi target pesanan.

Meskipun demikian, tingkat kepercayaan bisnis di kalangan pelaku industri dilaporkan membaik tipis. Namun secara umum, indikator keyakinan tersebut masih tertahan di level yang cukup rendah.

Data terbaru S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia berada di level 50,0.

>>> Cara Mengajukan GoPay Pinjam, Syarat dan Langkah-Langkah Terbaru

Hasil ini mencerminkan pemulihan moderat dibandingkan April 2026 yang sempat terpuruk ke posisi 49,1.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru