Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,21 miliar.
Angka ini melonjak sebesar 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
>>> Samsung Galaxy A54 5G Masih Layak Dibeli di 2026 dengan Harga Rp2 Jutaan
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan impor migas dan non-migas. Impor migas naik signifikan sebesar 82,52 persen menjadi US$4,60 miliar.
Sementara itu, impor non-migas tumbuh 14,11 persen menjadi US$20,62 miliar.
Pendorong Utama Kenaikan Impor
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa impor non-migas memberikan andil terbesar.
>>> Dahyun TWICE Donasi Rp354 Juta untuk Penderita Leukemia di Ulsan
"Peningkatan nilai impor secara tahunan ini didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil peningkatan sebesar 12,39 persen," ujarnya.
Secara kumulatif, nilai impor Januari hingga April 2026 mencapai US$86,51 miliar. Realisasi ini mencatat pertumbuhan 13,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
>>> 5 Rekomendasi Lip Tint Tahan Lama dan Terjangkau untuk Remaja
Nilai impor migas secara akumulatif tercatat US$12,93 miliar atau naik 17,58 persen. Sementara impor non-migas mencapai US$73,58 miliar, tumbuh 12,70 persen.
Berdasarkan klasifikasi penggunaan, seluruh komoditas mengalami peningkatan.
Kontribusi terbesar berasal dari golongan bahan baku atau penolong yang mencapai US$61,82 miliar, tumbuh 11,67 persen.
>>> Pemerintah Tahan Harga Pertamax, Beban Kompensasi Capai Rp2,3 Triliun per Bulan
Pudji merinci bahwa impor bahan baku penolong yang naik cukup besar meliputi bahan bakar mineral (HS27), mesin dan perlengkapan elektrik (HS85), serta berbagai produk kimia (HS38).