Pemerintah masih menahan harga jual bahan bakar minyak nonsubsidi Pertamax di level Rp12.300 per liter hingga Juni 2026.
Padahal, nilai keekonomiannya diperkirakan telah menembus Rp16.427 per liter berdasarkan data Bloomberg Technoz pada Selasa (2/6/2026).
>>> HokBen Hadirkan Promo Hari Lahir Pancasila Juni 2026, Menu Ramen dan Beef Yakiniku Diskon
Kebijakan ini memicu konsekuensi finansial yang besar.
Kalangan ekonom memproyeksikan kebutuhan dana penambal selisih harga jual bensin RON 92 milik Pertamina itu berkisar antara Rp2,2 triliun hingga Rp2,3 triliun setiap bulannya.
Perhitungan Nilai Keekonomian Pertamax
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan taksasi tersebut didasari oleh perhitungan penurunan harga minyak mentah acuan dunia di bawah US$100 per barel.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang stabil di atas Rp17.000 per dolar AS juga mempengaruhi perhitungan.
“Untuk Pertamax RON 92, nilai keekonomiannya kemungkinan berada di sekitar Rp16.427 per liter.
Rujukan sebelumnya menunjukkan bahwa pada skenario ICP US$100 per barel dan kurs Rp17.000 per dolar AS, harga keekonomian Pertamax bisa mencapai sekitar Rp17.800 per liter,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (2/6/2026).
Josua menambahkan bahwa jika kebijakan ini terus dipertahankan hingga akhir tahun, maka beban kumulatif pada periode Juni sampai Desember 2026 diprediksi membengkak menjadi Rp15 triliun hingga Rp16,5 triliun.
>>> Acer Luncurkan Tablet Android 14 A210 Mini Pad Layar 8 Inci
“Angka ini masih indikatif karena volume realisasi Pertamax, harga MOPS, kurs rata-rata, pajak, biaya distribusi, dan margin badan usaha akan menentukan angka finalnya,” tegas Josua.
Pemerintah menghadapi situasi dilematis.
Menaikkan harga Pertamax akan langsung memicu lonjakan inflasi, sedangkan menahannya bakal memperberat beban keuangan Pertamina serta memperbesar risiko kompensasi energi.
“Misalnya bertahap Rp500 sampai Rp1.000 per liter, agar beban tidak menumpuk terlalu besar,” ungkap Josua.
Sementara harga Pertamax dijaga tetap, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian untuk jenis komoditas lain.
Harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp20.750 per liter, sedangkan Dexlite turun menjadi Rp26.000 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp24.800 per liter.
Untuk BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar, masing-masing nilainya dipastikan tidak berubah. Pertalite tetap dibanderol Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
>>> Valve Naikkan Harga Steam Deck 1TB, CEO Epic Games Sindir Gabe Newell
Mengenai mekanisme pembiayaan selisih, manajemen Pertamina sempat mengonfirmasi pada pertengahan Mei lalu bahwa operasional perseroan akan menanggung beban keekonomian tersebut terlebih dahulu.
Nantinya, beban itu akan dibayarkan secara reguler oleh negara.
“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an per liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).
Pihak korporasi memastikan koordinasi intensif terus berjalan guna menetapkan besaran akhir dana kompensasi energi yang akan disalurkan oleh pemerintah sesuai regulasi.
“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” tegas Roberth.
Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada kuartal I-2026 sudah melonjak hingga 266,5% secara tahunan menjadi Rp118,7 triliun.
Jumlah itu terdiri dari subsidi Rp52,2 triliun dan kompensasi Rp66,5 triliun dari total pagu tahunan sebesar Rp381,3 triliun.
>>> Terapi Radioembolization Y90 Buka Harapan Baru Pasien Kanker Hati
Ekonom memprediksi kebutuhan dana kompensasi akibat penahanan harga Pertamax mencapai Rp2,3 triliun per bulan akibat kurs rupiah yang melemah.