⌂ Beranda News Rupiah Melemah ke Rp17.868,5 per Dolar AS pada 2 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.868,5 per Dolar AS pada 2 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.868,5 per Dolar AS pada 2 Juni 2026
Grafik kurs rupiah terhadap dolar AS melemah
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah signifikan pada perdagangan Selasa (2/6/2026) siang.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, rupiah jatuh 63,5 poin atau 0,36% ke level Rp17.868,5 per dolar AS pada pukul 11.38 WIB.

>>> SBY Ungkap Strategi Indonesia Hadapi Krisis Ekonomi Global 2008

Sementara itu, indeks dolar AS bergerak turun 0,03% ke level 99,17.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah kali ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari eksternal, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor memburu aset aman, termasuk dolar AS.

Menurut Ibrahim, ketidakpastian terkait hubungan AS dan Iran serta konflik yang melibatkan Israel dan Lebanon membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi tekanan tambahan bagi perekonomian domestik.

>>> Warga Yahudi Ultra-Ortodoks Blokade Jalan Raya Israel Tolak Wajib Militer

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS ketika harga energi global meningkat.

Menurut Ibrahim, tingginya kebutuhan devisa untuk impor energi membuat permintaan dolar tetap besar sehingga memperberat tekanan terhadap rupiah.

Dampak bagi Masyarakat

Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor dan meningkatkan tekanan inflasi.

Sejumlah komoditas seperti kedelai, jagung, pupuk, hingga berbagai bahan baku industri berpotensi mengalami kenaikan harga ketika rupiah terus melemah.

Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga barang konsumsi di tingkat masyarakat.

"Pelemahan rupiah ini pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat karena banyak kebutuhan dan bahan baku yang masih bergantung pada impor," ujar Ibrahim.

>>> Donald Trump Pangkas Tarif Impor Produk Baja, Aluminium, dan Tembaga

Ia menilai, kelompok masyarakat menengah ke bawah akan menjadi pihak yang paling rentan terkena dampak karena porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok relatif lebih besar.

Ibrahim juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan inflasi.

Jika inflasi terus naik, ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.

"Ketika harga barang naik dan daya beli menurun, pertumbuhan konsumsi masyarakat juga berpotensi melambat.

Ini yang perlu diwaspadai karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional," ujar Ibrahim.

>>> Dua Lipa Resmi Menikahi Callum Turner di London

Pelaku pasar kini menantikan perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru