⌂ Beranda News Kader PKK Desa Perante Integrasikan Penanganan Stunting dan Tuberkulosis

Kader PKK Desa Perante Integrasikan Penanganan Stunting dan Tuberkulosis

Kader PKK Desa Perante Integrasikan Penanganan Stunting dan Tuberkulosis
Kader PKK Desa Perante melakukan skrining stunting dan tuberkulosis
A A Ukuran Teks16px

Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Perante di Kabupaten Situbondo mengintegrasikan penanganan stunting dan tuberkulosis (TB) melalui pemanfaatan Google Form dan WhatsApp.

Langkah inovatif digital ini diterapkan guna memperluas sekaligus mempercepat proses pendataan kesehatan warga desa.

>>> Dewan Komisaris Pertamina Tinjau Keandalan Pasokan Energi di IT Manggis Bali

Sistem pendataan berbasis digital tersebut diinisiasi oleh Ketua TP PKK Desa Perante, Siti Zubaidah (59), bersama wakilnya, Farhana (29).

Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik iNET pada Jumat (29/5/2026), inovasi ini telah berhasil menjaring data skrining dari mayoritas penduduk setempat.

Hingga kini, program digitalisasi kesehatan tersebut telah mendata hampir 200 anak terkait masalah stunting.

Selain itu, sekitar 500 hingga 600 warga dari total hampir 1.000 penduduk Desa Perante telah terjaring dalam skrining tuberkulosis.

"Setelah saya cari-cari, ternyata belum ada yang menyatukan dua masalah terkait TB dan stunting.

Di sini, kami mencoba menyelesaikan dua masalah ini dalam satu penanganan," aku Farhana kepada detikINET melalui sambungan telepon, Jumat (29/5/2026).

Penanganan bersama ini didasari oleh keterkaitan erat antara kedua penyakit tersebut pada anak-anak.

>>> APBI Minta Danantara Hormati Kontrak Ekspor Batu Bara yang Sudah Berjalan

Farhana, yang juga berprofesi sebagai guru di MIM Perante, menilai bahwa masalah stunting dan tuberkulosis saling memengaruhi kondisi fisik anak secara berkelanjutan.

"Anak yang stunting rentan terkena tuberkulosis, begitu pula TB membuat anak stunting sulit untuk bertumbuh kembang maksimal," ujar Farhana.

Intervensi medis bagi anak yang terdiagnosa stunting memerlukan waktu yang cukup lama dan pemeriksaan menyeluruh terhadap anggota keluarga.

Skrining silang dilakukan karena kondisi kesehatan lingkungan rumah tangga sangat menentukan proses pemulihan.

"Kalau sudah kena stunting, nggak bisa 1-2 bulan tindakannya, itu harus ditindak bertahun-tahun mendatang, mungkin 2-3 tahun.

Kalau anak kena stunting, keluarga harus dicek kena TB atau nggak," jelas Farhana.

Upaya penurunan angka stunting di wilayah ini sebenarnya telah digalakkan sejak tahun 2023 melalui program Kardas Centing Tosis (Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis).

Kehadiran instrumen digital kemudian mempermudah warga untuk memberikan informasi kesehatan secara terbuka tanpa merasa sungkan.

>>> Insentif Kendaraan Listrik Mulai Juni 2026, Pemerintah Siapkan Skema Baru

"Google Form ini hanya dibagikan lewat grup WhatsApp Kader Posyandu.

Tak hanya mengandalkan Google Form dan edukasi di WhatsApp, kami juga memberikan penyuluhan workshop mengenai bahaya TB dan stunting," tegas Hana.

Data hasil pengisian formulir digital tersebut langsung dialokasikan sebagai basis acuan bagi pemeriksaan lanjutan di Posyandu.

TP PKK Desa Perante bersinergi dengan bidan desa serta tenaga kesehatan Posyandu untuk menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) gratis selama satu bulan bagi anak stunting.

"Waktu itu aku sudah mulai ikut menyalurkan PMT 2024. Ternyata ada beberapa anak yang di 2025 nggak mendapatkan PMT lagi.

Waktu itu aku tanya ke kadernya "Kenapa nggak dapat lagi?" , dijawabnya "Anak ini sudah sehat, anaknya nggak stunting lagi"," kisahnya.

Bagi warga masyarakat yang mengalami kendala akses atau belum mengisi formulir secara online, kader PKK menerapkan sistem kunjungan langsung.

>>> Lee Young-ji Minta Maaf Usai Unggahan Rambut Merah Picu Kontroversi Politik

Tim lapangan mendatangi rumah warga satu per satu guna memastikan seluruh populasi desa terdata dengan akurat.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru