Harga minyak mentah dunia melonjak hingga dua persen pada awal perdagangan Senin (1/6/2026).
Kenaikan ini dipicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah Iran dan Amerika Serikat saling serang, serta pergerakan pasukan Israel ke Lebanon.
>>> Pemerintah Coret Influencer dari Fasilitas PPh Final UMKM 0,5 Persen
Lonjakan komoditas energi ini terjadi setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan pada Jumat (29/5). Pasar saat itu masih mengandalkan harapan perdamaian.
Kenaikan Harga Minyak Mentah
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat naik US$ 2,29 atau 2,62 persen ke angka US$ 89,65 per barel pada pukul 04.36 GMT.
Kontrak berjangka Brent juga meningkat sebesar US$ 2,05 atau 2,25 persen menjadi US$ 93,17 per barel.
Sebelumnya, patokan global Brent dan WTI masing-masing sempat melemah 1,8 persen dan 1,7 persen pada Jumat lalu.
>>> Apple Music Siapkan Paket Berlangganan Lebih Murah atau Gratis
Aksi saling serang ini meredupkan prospek perpanjangan gencatan senjata. Washington sebelumnya memfasilitasi dialog perdamaian Israel-Lebanon.
Pihak Amerika Serikat mengklaim telah meluncurkan serangan bela diri terhadap fasilitas radar dan kendali drone milik Iran di Pulau Goruk dan Pulau Qeshm pada Minggu (31/5).
Menanggapi hal itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melancarkan serangan balasan pada Senin.
>>> Pertamina Patra Niaga Sesuaikan Harga BBM Nonsubsidi per Juni 2026
Pasukan udara Iran membidik pangkalan udara yang dinilai menjadi tempat peluncuran serangan terhadap menara telekomunikasi di Pulau Sirik.
Kondisi geopolitik ini memicu kekhawatiran baru bagi stabilitas distribusi energi global ke depan.
Analis dari IG, Tony Sycamore, menyatakan bahwa perhatian pelaku pasar saat ini juga tertuju pada ancaman ranjau di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur logistik bagi 20 persen pasokan energi dunia. "Meskipun kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan menghasilkan pasokan dalam jumlah besar," kata Sycamore dalam sebuah catatan.
>>> Harga Emas BSI dan Minigold 1 Juni 2026 Stabil, Lotus Archi Naik
Keberadaan ranjau di kawasan Selat Hormuz diprediksi akan memperlambat pembukaan jalur pelayaran. Hambatan ini berpotensi menunda pemulihan stabilitas pasar minyak mentah global meskipun konflik nantinya telah berakhir.
