Mengetahui jenis kelamin janin melalui ultrasonografi (USG) menjadi momen yang dinanti banyak orang tua. Namun, tak jarang hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan kondisi fisik bayi saat lahir.
Sebuah studi mengungkapkan bahwa 69 persen responden berencana mencari tahu jenis kelamin janin sesegera mungkin.
>>> Pemerintah Tetapkan 1 Juni 2026 Jadi Hari Libur Nasional Lahirnya Pancasila
USG prenatal merupakan metode pencitraan non-invasif yang aman karena menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi tanpa radiasi.
Food and Drug Administration (FDA) menyatakan USG aman dilakukan oleh teknisi terlatih untuk tujuan medis.
Pemindaian anatomi terperinci atau USG level 2 biasanya dijadwalkan antara minggu ke-18 dan ke-22 untuk mengevaluasi perkembangan janin sekaligus melihat organ kelamin.
Faktor yang Memengaruhi Hasil USG
Ketepatan hasil pemeriksaan sangat bergantung pada waktu pelaksanaannya. Pemeriksaan pada akhir trimester pertama atau antara minggu ke-11 dan ke-14 memiliki tingkat akurasi sekitar 75 persen.
Akurasi pemindaian meningkat hingga hampir 100 persen saat memasuki trimester kedua dan ketiga.
Kesalahan yang paling sering terjadi pada awal kehamilan adalah mengklasifikasikan janin laki-laki sebagai perempuan karena ukuran klitoris dan penis yang masih mirip.
"Keakuratan USG meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan," kata Bart Putterman, MD, dokter kandungan di Texas Children Pavilion for Women di Houston.
>>> Polda Metro Jaya Tahan Direktur Hanania Group Terkait Penipuan Umrah
Faktor kedua adalah posisi janin saat pemeriksaan. Jika kaki janin menutup, ahli sonografi akan kesulitan melihat area kelamin dengan jelas.
"Jika tidak terlihat jelas, kesalahan dapat terjadi ketika ahli sonografi menebak jenis kelamin berdasarkan pemeriksaan yang kurang optimal," tutur Dr. Putterman.
Ukuran tubuh ibu yang lebih besar juga dapat meningkatkan kesulitan teknis dalam menentukan jenis kelamin janin.
Menurut Michele Hakakha, MD, dokter kandungan di Beverly Hills, operator USG idealnya tetap harus mendapatkan gambaran yang jelas.
Selain itu, kondisi kehamilan kembar turut memengaruhi proses identifikasi. Salah satu janin dapat terhalang oleh posisi saudaranya, sehingga penentuan jenis kelamin menjadi lebih rumit.
Indikator Gender pada Hasil Pemindaian
Teknisi USG menggunakan ciri khas atau tanda tertentu untuk mengidentifikasi jenis kelamin janin. Pada janin perempuan, pemeriksa akan mencari tanda hamburger yang menggambarkan bentuk labia dan klitoris.
Indikator lainnya adalah tanda sagittal berupa takik kaudal di ujung tulang belakang yang mengarah ke bawah.
Pada janin laki-laki usia 18 hingga 20 minggu, keberadaan testis, skrotum, dan penis menjadi indikator utama.
>>> Timnas Jepang Uji Coba Lawan Islandia di Tokyo, Siap Matangkan Taktik
Teknisi biasanya mencari tanda kura-kura, serta memperhatikan takik kaudal yang mengarah ke atas.
"Waktu paling awal dalam kehamilan di mana jenis kelamin janin dapat ditentukan dengan USG adalah sekitar 12 minggu, dan bahkan saat itu pun, masih sangat sulit," kata Dr. Hakakha.
Alat kelamin eksternal yakni vulva atau penis dan skrotum sebenarnya belum berada di luar hingga sekitar 13 minggu.
Metode Alternatif Deteksi Jenis Kelamin
Selain melalui pemindaian gelombang suara, akurasi penentuan jenis kelamin janin dapat dioptimalkan melalui sejumlah tes medis lainnya.
Pertama, Non-invasive prenatal screening (NIPT) yang merupakan tes darah untuk memindai kelainan genetik sekaligus menganalisis kromosom sejak minggu ke-10 kehamilan.
Kedua, Chorionic villus sampling (CVS) yang dilakukan antara minggu ke-10 dan ke-13 melalui pengambilan sel plasenta.
Metode ketiga adalah Amniocentesis, yaitu prosedur ekstraksi cairan ketuban antara minggu ke-15 dan ke-20 kehamilan.
>>> Kemenkes Jadikan Aceh Model Percontohan Nasional Tekan Anak Zero Dose
Meskipun CVS dan Amniocentesis ditujukan untuk mendiagnosis kondisi genetik, mengetahui jenis kelamin menjadi hasil sampingan dari prosedur ini.
