⌂ Beranda News Kurang Tidur saat Hamil Tingkatkan Risiko Gangguan Kecemasan Pasca Melahirkan

Kurang Tidur saat Hamil Tingkatkan Risiko Gangguan Kecemasan Pasca Melahirkan

Kurang Tidur saat Hamil Tingkatkan Risiko Gangguan Kecemasan Pasca Melahirkan
Ilustrasi ibu hamil tidur di tempat tidur
A A Ukuran Teks16px

Depresi pasca persalinan menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang kerap membayangi perempuan usai melahirkan.

Kondisi ini umumnya ditandai dengan kemunculan gangguan kecemasan yang sulit diredam oleh sang ibu.

>>> Bigetron Raih Juara MPL ID S17 Usai Kalahkan Onic Esports

Riset dalam jurnal Sleep pada April 2026 menunjukkan adanya keterkaitan erat antara masalah tersebut dengan kualitas istirahat selama masa mengandung.

Penelitian ini digarap oleh tim ahli dari Washington University yang berbasis di St. Louis.

Sekitar 15 persen perempuan tercatat mengalami gangguan kecemasan, baik selama masa kehamilan maupun pada periode beberapa minggu setelah proses persalinan.

Fenomena ini yang kemudian mendorong para ilmuwan untuk menggali pemicu utamanya.

Tim peneliti melibatkan 230 perempuan sebagai partisipan sepanjang fase awal hingga akhir kehamilan.

Pengamatan juga terus dilanjutkan hingga memasuki periode awal dan akhir pasca persalinan guna melihat dampak konkret dari kurangnya waktu istirahat.

Penurunan kualitas tidur kerap dipicu oleh berbagai faktor alami. Mulai dari fluktuasi hormon, perubahan fisik yang signifikan, hingga tekanan stres yang muncul akibat kecemasan menghadapi persalinan.

Data studi memperlihatkan bahwa keluhan sulit tidur mulai dirasakan secara signifikan saat memasuki trimester ketiga.

Gangguan ini kemudian cenderung meningkat pada periode awal pasca melahirkan sebelum akhirnya berada dalam kondisi stabil.

>>> Pertamina Pastikan Keandalan Distribusi Energi di Nusa Tenggara Timur

Para peserta diminta mengisi rangkaian kuesioner terkait pola tidur serta tingkat kecemasan mereka.

Pertanyaan yang diajukan mencakup rasa khawatir berlebih terhadap kondisi bayi hingga ketakutan akan adanya bahaya yang mengancam buah hati.

Evaluasi juga diarahkan pada tanda-tanda gangguan obsesif kompulsif atau OCD.

Hal itu terlihat melalui munculnya pikiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi jika ibu tidak bertindak sangat waspada, atau perasaan ketidaksempurnaan yang memicu kecemasan.

Para peneliti turut menilik sejauh mana tingkat kepercayaan diri seorang ibu dalam mengendalikan situasi darurat memengaruhi pola tidur mereka.

Hasilnya, durasi istirahat yang pendek terbukti memicu peningkatan kecemasan perinatal dan keyakinan obsesif seiring berjalannya waktu.

Dampak buruk ini ditemukan jauh lebih parah pada ibu yang memiliki kapasitas atau kemampuan mengatasi masalah yang rendah.

Di sisi lain, durasi tidur yang singkat menjadi indikator longitudinal yang kuat dalam memprediksi gangguan kecemasan perinatal.

"Mendapatkan tidur nyenyak sepanjang malam bisa menjadi sulit selama periode tersebut," kata psikolog Rebecca Cox, PhD, selaku penulis utama studi.

"Temuan utama menunjukkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek merupakan prediktor longitudinal yang lebih kuat untuk kecemasan perinatal.

>>> Intel Luncurkan Project Firefly, Standarisasi Desain Laptop Terjangkau

Gangguan tidur mungkin bisa menjadi target yang baik untuk intervensi kesehatan mental di masa perinatal," tambah para penulis studi.

Rekomendasi Durasi dan Pola Istirahat bagi Ibu Hamil

Pemenuhan waktu istirahat yang cukup sangat dianjurkan bagi ibu hamil demi memulihkan stamina sekaligus mengusir kelelahan fisik.

Kecukupan waktu istirahat ini juga efektif meminimalkan rasa tidak nyaman yang muncul selama masa mengandung.

Ibu hamil disarankan untuk mengatur jam tidur malam setidaknya selama 8 jam agar kebutuhan minimal tidur efektif selama 7 jam tetap terpenuhi.

Pola istirahat ini memerlukan penyesuaian jadwal yang berbeda dibanding kebiasaan sebelum mengandung.

"Seorang perempuan perlu tidur lebih awal saat dia hamil.

Saat hamil, perempuan membutuhkan istirahat ekstra dan tidak bisa lagi mengikuti jadwal tidur seperti sebelum hamil," kata Lee, dikutip dari Live Science.

Pembagian waktu istirahat dapat disiasati dengan menyisipkan tidur siang singkat berdurasi 30 sampai 60 menit. Sementara itu, sisa kecukupan kuota waktu istirahat lainnya wajib dioptimalkan pada malam hari.

Bagi ibu hamil yang mengalami kesulitan memicu rasa kantuk dalam rentang waktu 10 hingga 15 menit, disarankan untuk segera beranjak dari tempat tidur.

>>> OJK Imbau Korban Penipuan Segera Lapor ke Indonesia Anti Scam Centre

Langkah berikutnya adalah berpindah ke ruangan lain dan melakukan aktivitas rileks yang merangsang kantuk, seperti membaca buku atau mendengarkan musik berirama lembut.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru