⌂ Home News Rupiah Diproyeksikan Sentuh Rp18.150 per Dolar AS pada Awal Juni
News

Rupiah Diproyeksikan Sentuh Rp18.150 per Dolar AS pada Awal Juni

Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS
A A Text Size16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.150 per dolar AS pada pekan pertama Juni 2026.

Pelemahan ini dipicu oleh bayang-bayang ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa indeks dolar AS (DXY) berpotensi melebar ke rentang 98,1 hingga 101.

Hal ini didorong oleh tensi geopolitik yang belum mereda dan turut menopang harga minyak mentah dunia.

"Untuk rupiah ada kemungkinan besar ini akan menuju Rp18.150 per dolar AS di minggu pertama di bulan Juni ini," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah terdepresiasi 0,48 persen ke posisi Rp17.874 per dolar AS.

Posisi tersebut menjadi yang terlemah sepanjang sejarah dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengonfirmasi bahwa pelaku pasar global menanti kepastian kesepakatan antara AS dan Iran terkait perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.

Meski harga minyak Brent turun ke sekitar US$92,85 per barel, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

"Artinya, risiko minyak turun memang membantu rupiah, tetapi risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya," kata Josua.

Dari sisi internal, tekanan rupiah diperparah oleh kebutuhan dolar AS yang tinggi untuk impor, utang luar negeri, dividen, dan energi.

Pasokan dolar dari ekspor dinilai belum cukup kuat untuk menopang cadangan devisa.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyoroti kondisi kurva imbal hasil obligasi Indonesia yang terlalu datar.

Imbal hasil untuk tenor satu tahun dan sepuluh tahun saat ini sama-sama berada di kisaran 6,7 persen.

"Ketika kedua tenor tersebut memiliki imbal hasil yang hampir sama, pasar mulai mempertanyakan mekanisme price discovery yang terjadi," kata Fakhrul.

Ia menilai kondisi ini tidak lazim karena investor obligasi sepuluh tahun seharusnya mendapatkan premi risiko lebih tinggi.

Persepsi premi risiko yang belum tercermin penuh menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap rupiah.

"Ketika investor melihat rupiah melemah, tetapi obligasi jangka panjang tidak memberikan premi tambahan yang memadai, maka insentif untuk menahan aset Rupiah menjadi berkurang," tutur Fakhrul.

About the Author
📰 Latest Updates