⌂ Beranda News Politisi PDIP dan PSI Bersilang Pendapat soal Rencana Safari Jokowi

Politisi PDIP dan PSI Bersilang Pendapat soal Rencana Safari Jokowi

Politisi PDIP dan PSI Bersilang Pendapat soal Rencana Safari Jokowi
Mantan Presiden Joko Widodo berinteraksi dengan warga saat blusukan
A A Ukuran Teks16px

Rencana mantan Presiden Joko Widodo untuk melakukan safari ke berbagai daerah setelah pulih dari sakit memicu silang pendapat yang tajam antara politisi PDI Perjuangan dan Partai Solidaritas Indonesia pada akhir Mei 2026.

Tanggapan PDI Perjuangan

Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat mengaitkan momentum ini dengan polemik tudingan ijazah palsu yang melibatkan tersangka Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma.

>>> Kota Swedia Izinkan Bar Sajikan Alkohol Selama Piala Dunia 2026

"Paling enak itu enggak usah pakai drama-drama. Enggak usah pakai drama-drama di pengadilan gitu loh ya.

Kalau Anda tanya ijazah saya, saya tunjukkan pada Anda gitu ya," ujar Djarot saat ditemui dalam acara Bimbingan Teknis DPRD PDI-P se-Indonesia di Jakarta Utara, Sabtu (30/5/2026).

Djarot menilai langkah menunjukkan dokumen asli jauh lebih sederhana untuk memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus menetralisir kegaduhan yang terus berulang.

"Tapi ya beliau juga harus bisa menjelaskan, menunjukkan untuk supaya masyarakat betul-betul yakin ya bahwa ijazahnya itu asli.

Tunjukkan aja ijazahnya," kata Djarot.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menambahkan bahwa PDI-P sama sekali tidak merasa terganggu dengan rencana kunjungan ke daerah tersebut.

"Justru dengan beliau turun ke beberapa wilayah itu justru partai kita semakin solid ya.

Partai kita akan semakin solid untuk membangun internal partai maupun lebih solid untuk turun ke bawah. Jadi silakan saja beliau keliling ke mana pun, bebas ya," ungkap Djarot.

Juru Bicara PDI-P Guntur Romli menyatakan partainya tidak mengkhawatirkan dampak elektoral dari rencana safari tersebut.

"Saya sangat yakin tidak ada pengaruh sama sekali. Jokowi itu sudah dipecat dari PDI Perjuangan secara tidak terhormat.

Termasuk Gibran dan Bobby. Masyarakat sudah tahu alasannya," kata Guntur saat dihubungi pada Jumat (29/5/2026).

Guntur mengungkit kembali momen ketika Joko Widodo memberikan dukungan kepada PSI saat masih menjabat sebagai presiden.

"Secara logika sederhana saja, waktu Jokowi jadi Presiden tidak mampu meloloskan PSI ke parlemen, apalagi sekarang tidak jadi apa-apa," ucap Guntur.

Ia juga menuduh aktivitas turun ke daerah tersebut hanya akan diisi dengan kegiatan seremonial pembagian bantuan dasar demi konten media sosial.

"Paling dia keliling Indonesia cuma bagi-bagi sembako dan amplop saja. Buat konten di medsos dia saja itu," tambahnya.

Guntur memprediksi perjalanan ini akan dipenuhi oleh manuver politik yang membingungkan bagi publik.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Jokowi jalan-jalan ke seluruh pelosok Indonesia. Kita bisa menyaksikan drama sinetron sen kiri belok kanan ala Jokowi," tutur Guntur.

>>> Naomi Osaka Kalahkan Laura Siegemund di Prancis Terbuka 2026

Ia juga memaparkan data historis mengenai dampak elektoral Joko Widodo terhadap PDI-P selama sepuluh tahun memegang kekuasaan.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru