⌂ Beranda News Politisi PDIP dan PSI Bersilang Pendapat soal Rencana Safari Jokowi

Politisi PDIP dan PSI Bersilang Pendapat soal Rencana Safari Jokowi

Politisi PDIP dan PSI Bersilang Pendapat soal Rencana Safari Jokowi
Mantan Presiden Joko Widodo berinteraksi dengan warga saat blusukan
A A Ukuran Teks16px

"Data ketika tahun 2014, 2019, ketika Jokowi menjadi presiden, PDIP datanya hanya naik 1 persen, jadi tidak memberikan dampak signifikan terhadap elektoral partai," ujarnya.

Pandangan PSI

Menanggapi serangan tersebut, Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus mengaku heran dengan sikap sinis dari jajaran politisi PDI-P sejak berpisah jalan secara politik.

"Justru aneh kalau dia khawatir. Ngapain mesti khawatir?

Pak Jokowi itu hanya, apa ya, kalau saya bilang tuh, adalah Presiden ke-7 yang dulu ketika beliau menjabat itu sering blusukan, sehingga ada kerinduan dari kelompok-kelompok masyarakat atau masyarakat secara pribadi yang pernah merasakan kebijakan beliau yang diterapkan di lapangan ketika beliau datang juga menyapa, itu ada kerinduannya beliau datang," kata Bestari.

Bestari menilai PDI-P terus melontarkan pandangan negatif karena merasa kehilangan hak istimewa yang selama ini didapatkan.

"Ngak tahu ya semenjak kenikmatan-kenikmatan buat partainya itu dicabut oleh Pak Jokowi kan selalu miring saja pendapatnya, kan begitu," ucap Bestari.

Ia melihat momentum safari nasional ini sebagai peluang besar bagi PSI untuk menegaskan arah politik baru para pendukung setia mantan presiden tersebut.

"Jadi tanpa mereka (PDIP) sadari sebetulnya ya justru kami di PSI ini bergembira dengan Pak Jokowi sudah tidak lagi di sana, dan mudah-mudahan menjadi kesempatan juga pada saat mengunjungi seluruh Indonesia nanti, Pak Jokowi menyatakan bahwa sekarang sudah bersama PSI.

Jadi yang dulu selama 10 tahun orang suka sama Pak Jokowi ketika menjabat, hari ini jadi permakluman publik 'oh, beliau sudah di sini, di PSI bersama PSI, kita jangan lagi milih partai yang itu', kan begitu," ujar Bestari.

Bestari meyakini perpindahan basis suara dari pemilih senyap akan menguntungkan PSI dan memicu kegelisahan di kubu lawan.

"Makanya timbullah kegelisahan-kegelisahan itu.

Wajarlah kan namanya Pak Jokowi dicintai rakyat, kemudian pindah ya silent voters-nya Pak Jokowi, pendukung Pak Jokowi juga akan ikut pindah tentu ke mana?

Ke PSI, sehingga ada kekhawatiran-kekhawatiran mungkin ya kita maklumilah gitu," sambungnya.

Mantan politikus Partai NasDem tersebut kemudian meminta agar fungsionaris PDI-P lebih fokus pada pembenahan internal mereka sendiri.

"Sebaiknya dia cukup memperhatikan partainya dia, atau memang dia sudah nggak ada kerjaan di partainya sehingga harus memperhatikan partai orang?

>>> Jay Idzes dan Dean James Absen Bela Timnas Indonesia di FIFA Matchday

Jadi susah gitu. Iya.

Ah, saya juga heran sebetulnya dia di PDIP itu sebagai apa sih? Pengurus bukan, apa bukan, atau lagi berlomba-lomba untuk menjadi pengurus gitu kan?

Sehingga harus mengeluarkan statement-statement yang tidak berbobot sama sekali yang justru tidak membangun buat partainya," tegas Bestari.

Bestari bahkan menyindir rekam jejak kekalahan elektoral tokoh-tokoh utama PDI-P di tingkat nasional saat tidak lagi mendapatkan sokongan politik dari Joko Widodo.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru