Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendorong sejumlah perusahaan telekomunikasi di Indonesia memperketat prioritas investasi dan menekan biaya operasional.
Langkah efisiensi ini diambil karena mayoritas komponen infrastruktur jaringan digital masih bergantung pada barang impor.
>>> Penyebab Perut Kembung dan Kentut Saat Lari, Begini Cara Mencegahnya
Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) sekaligus Director & Chief Regulatory Officer XLSMART, Merza Fachys, menyatakan bahwa pelaku industri harus terus berinvestasi untuk menjaga kualitas layanan.
Namun, lonjakan mata uang asing menjadi beban berat bagi pembiayaan operator.
"Ya ini memang satu tantangan berat ketika kita seluruh investasinya masih sebagian besar impor. Sementara semua mata uang di luar sana menguat terhadap rupiah.
Ya ini memang tantangan berat," kata Merza Fachys setelah menghadiri konferensi pers di Jakarta pada Jumat (29/5/2026).
Menurut Merza, operator kini fokus mengarahkan anggaran pada sektor yang dapat mendorong pertumbuhan pendapatan dan jumlah pelanggan.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga kepuasan konsumen agar tidak berdampak buruk pada bisnis jangka panjang perusahaan.
>>> G7 Paris dan Akhir Ilusi Free Trade: Menuju Western-Managed Geoeconomics
"Oleh sebab itu, itulah hal-hal yang menjadi ukuran investasi yang tepat guna, investasi yang full efisien," ujar Merza Fachys.
Proyek 5G Tetap Berjalan
Meskipun sedang melakukan penghematan anggaran belanja modal dan operasional, ATSI menegaskan bahwa proyek perluasan jaringan teknologi generasi kelima tetap berjalan.
Akselerasi implementasi dinilai mendesak karena posisi Indonesia masih tertinggal dari negara lain.
"Kita harapkan ini segera kita kebut untuk menuntaskan pengembangan 5G hampir ke seluruh wilayah Indonesia," ungkap Merza Fachys.
Kebijakan penyesuaian anggaran juga dilakukan oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang sedang menghitung ulang rencana investasi.
>>> Kementan Gelar Rapat Koordinasi Atasi Anjloknya Harga Ayam Hidup Peternak
Lonjakan dolar AS berimbas langsung pada kenaikan biaya pengadaan perangkat telekomunikasi perusahaan pelat merah tersebut.
"Karena mungkin investasi kita dalam dolar, ada beberapa yang mungkin hari ini kami sesuaikan.
Namun sebetulnya dari sisi market dan kebutuhan pelanggan, internet itu tumbuh terus," ujar Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom pada Rabu (20/5/2026).
Data keuangan tahun 2025 menunjukkan Telkom telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau sekitar 18,8 persen dari total pendapatan.
Kini, emiten berkode TLKM itu memfokuskan strategi korporasi pada segmen bisnis ke bisnis (B2B) internasional dan infrastruktur guna menyeimbangkan porsi pendapatan pada tahun 2030.
"Segmen B2B Infra dan internasional sudah memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa.
>>> Prabowo Subianto Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila ke-81
Untuk yang B2B ICT ini sekarang lagi dimasak supaya ke depannya bisa menjadi sumber pertumbuhan yang baru," pungkas Dian Siswarini.