Rupiah kembali mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 0,48% ke posisi Rp17.874 per dolar AS.
Sepanjang bulan Mei, rupiah membukukan depresiasi sebesar 2,91%. Pelemahan ini menjadikan rupiah melemah tiga bulan beruntun.
>>> Pemerintah Siapkan Alokasi Transfer ke Daerah Rp710–810 Triliun pada 2027
Tekanan dari Faktor Global dan Domestik
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global dan domestik. Dari global, pasar masih menunggu kepastian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Meski ada kabar positif perpanjangan gencatan senjata 60 hari yang menurunkan harga minyak Brent ke sekitar US$92,85 per barel, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
"Artinya, risiko minyak turun memang membantu rupiah, tetapi risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya," kata Josua.
Dari sisi domestik, tekanan rupiah lebih berat karena pasar masih menunggu dukungan struktural. Pelaku pasar menyoroti kebutuhan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan disiplin transaksi berjalan.
"Ini penting karena selama pasokan dolar dari ekspor belum cukup kuat, sementara kebutuhan dolar untuk impor, utang luar negeri, dividen, dan energi tetap tinggi, rupiah akan mudah tertekan setiap kali ada guncangan sentimen," ujar Josua.
>>> Nenek di Jepang Sengaja Berbuat Kriminal agar Dirawat di Penjara
Defisit Neraca Pembayaran dan Risiko Peringkat Utang
Managing Director Research di Samuel Sekuritas, Harry Su, menambahkan faktor pemberat rupiah berasal dari pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan.
Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 defisit US$9,15 miliar, lebih dalam dari defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit US$4 miliar atau 1,1% terhadap PDB, memburuk tajam dibandingkan surplus US$2,5 miliar pada kuartal sebelumnya.
Harry juga mengingatkan risiko penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global yang dapat memicu kepanikan investor obligasi.
>>> Cara Cek Penerima Bansos BPNT Mei 2026 Lewat HP, Mudah dan Cepat
Pelaku pasar diperkirakan akan semakin berhati-hati menjelang rilis data inflasi Mei dan neraca perdagangan April pekan depan.
Risiko terhadap perekonomian Indonesia meningkat di tengah kenaikan harga energi dan kontraksi ekspor Maret.
Meski sulit, Harry menilai level psikologis Rp18.000/US$ masih mungkin dihindari jika BI mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan pemerintah mengambil langkah konkret.
Sementara Josua memperkirakan rupiah akan bergerak sangat bergejolak di kisaran Rp17.800/US$ hingga Rp18.000/US$.
Pekan depan, sejumlah data ekonomi domestik akan dirilis, termasuk ekspor-impor tahunan (2 Juni), data inflasi (2 Juni), dan cadangan devisa (8 Juni).
>>> PSI Ungkap Safari Politik Jokowi Bertujuan Hapus Citra Kader PDIP
UBS dan Barclays memproyeksikan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,75% untuk menahan tekanan rupiah.
