⌂ Beranda News Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Saham Bank Besar Kompak Berguguran

Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Saham Bank Besar Kompak Berguguran

Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Saham Bank Besar Kompak Berguguran
Grafik penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot ke titik terlemah dalam sejarah, memicu pelemahan harga saham bank-bank besar di Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (29/5/2026) siang, rupiah di pasar spot berada di level Rp17.874/US$.

>>> TKD 2027 Naik, Ekonom Soroti Risiko Perencanaan Anggaran

Pelemahan rupiah langsung berdampak negatif pada saham emiten perbankan nasional. Penurunan harga melanda bank pelat merah maupun swasta dengan kapitalisasi besar.

PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Aladin Syariah Tbk mencatat koreksi signifikan pada perdagangan siang hari ini.

Berikut rincian pergerakan saham bank besar berdasarkan data Bloomberg:

  • PT Bank Central Asia Tbk: -3,76% ke Rp5.750
  • PT Bank Aladin Syariah Tbk: -6,47% ke Rp260
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk: -1,56% ke Rp3.780
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk: -0,32% ke Rp3.060
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk: -2,41% ke Rp122
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk: -2,07% ke Rp1.890
  • PT Bank Maybank Indonesia Tbk: -1,78% ke Rp55
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk: -0,84% ke Rp117
  • PT Bank OCBC NISP Tbk: -0,71% ke Rp139

Analis: Fundamental Tak Cukup, Kredibilitas Kebijakan Diuji

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kemerosotan rupiah telah melampaui batas yang didukung fundamental jangka panjang Indonesia.

>>> BYD Tech Culture Fest 2026 Digelar di GBK, Perkenalkan Teknologi Kendaraan Listrik

"Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas," ujarnya.

Fakhrul menambahkan bahwa pelaku pasar tidak hanya terpaku pada indikator utama.

"Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang lebih volatile dan inflationary," katanya.

>>> Epidemiolog Sebut Dugaan Riset Bodong Jadi Momentum Benahi Budaya Akademik

Menurutnya, kondisi yang diuji saat ini mencakup kredibilitas dan konsistensi kebijakan, bukan sekadar ketahanan fundamental.

Kebijakan belanja pemerintah yang dinilai berisiko membebani fiskal karena terlalu populis menjadi perhatian pelaku pasar. Belum ada tanda penyesuaian anggaran hingga kuartal II-2026.

Sentimen negatif lain adalah kekhawatiran pasar terhadap pengetatan kendali negara pada ekspor komoditas.

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) sebagai BUMN khusus ekspor dianggap meningkatkan risiko regulasi bagi swasta.

>>> Perbedaan BYD M6 Classic dan Cross: Panduan Sebelum Membeli

Lembaga pemeringkat Moody's mencatat bahwa perubahan kerangka kebijakan pengelolaan ekspor komoditas berpotensi mengganggu profil kredit korporasi tambang akibat risiko operasional, finansial, dan intervensi pemerintah.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru