Perubahan cepat pada harga barang-barang ritel ini memicu inflasi karena biaya impor (imported inflation). Inflasi tersebut menekan daya beli kelas menengah ke bawah.
"Ini yang membuat ketidakpastian tinggi sehingga transmisi ke masyarakat dalam bentuk harga-harga barang yang lebih mahal, imported inflation atau inflasi yang didorong karena biaya impor semakin mahal ya.
>>> AS dan Iran Sepakati Draf Gencatan Senjata Sementara 60 Hari
Itu makin menekan daya beli masyarakat terutama kelompok menengah ke bawah," sambung Bhima.
Dampak lanjutan dari situasi ini adalah potensi efisiensi atau pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada perusahaan sektor padat karya yang mengandalkan bahan baku impor.
Sementara itu, kelompok menengah ke atas berhamburan membeli dolar AS.
"Yang dilakukan oleh masyarakat, kelas menengah ke atas berjaga-jaga terhadap situasi yang terus memburuk dengan membeli dolar AS.
Makin menekan, jadi ada spiral down effect di mana kecenderungan untuk menjual rupiah dan membeli dolar AS itu akan menekan nilai tukar rupiah lebih dalam lagi," ujar Bhima.
Fenomena pasar tersebut membuat kelompok pekerja informal dan masyarakat rentan menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka tidak memiliki bantalan tabungan yang cukup dalam menghadapi situasi darurat ekonomi.
"Sementara kelompok menengah ke bawahnya hampir dipastikan tidak punya persiapan ketika rupiahnya menembus 18.000.
Masyarakat menengah ke bawah lah yang sebenarnya paling dirugikan saat ini karena mereka hampir tidak lagi memiliki tabungan hidupnya sudah dari pinjaman dan sekarang sudah mode survival bahkan di kelompok menengah," jelas Bhima.
Gejolak pada kurs mata uang ini pada akhirnya diprediksi berujung pada penurunan indikator kesejahteraan sosial masyarakat secara makro.
"Nah inilah saya kira angka kemiskinan bisa kembali meningkat, angka pengangguran kembali naik, dan semakin banyak pekerja di sektor informal yang sebenarnya rapuh.
>>> Kemensos Perbarui Data DTSEN, Cek Desil Bansos Pakai NIK KTP
Nah itu efek dari dolar sentuh Rp 18.000," pungkas Bhima.