Nilai tukar rupiah diprediksi terus berada dalam tekanan besar hingga awal pekan depan. Mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penembusan angka tersebut akan memicu dampak psikologis negatif bagi investor.
>>> Polres Semarang Selidiki Intimidasi Debt Collector terhadap Mobil Keluarga
Para pelaku pasar dikhawatirkan meninggalkan rupiah demi mengamankan nilai aset mereka.
"Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata.
Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200," kata Ibrahim.
Kondisi eksternal saat ini memperlihatkan fenomena unik. Mata uang domestik tidak kunjung menguat meskipun dolar AS sebenarnya sedang mengalami penurunan performa secara global.
"Walaupun dolar mengalami pelemahan, tetapi tidak berdampak terhadap penguatan mata uang rupiah. Rupiah terus mengalami pelemahan," ujar Ibrahim.
Sentimen negatif ini berpotensi merembes ke perilaku finansial harian masyarakat. Masyarakat berupaya mencari penyelamat nilai aset alternatif di luar perbankan nasional.
"Pada saat masyarakat melihat bahwa peluang untuk dolar yang terus mengalami penguatan, membuat masyarakat itu mengalihkan tabungannya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing," sambung Ibrahim.
Selain sektor finansial, penurunan nilai tukar rupiah bakal mengerek harga jual komoditas pangan nasional. Produk impor jadi ataupun barang yang diproduksi memakai bahan baku luar negeri akan terdampak.
Sebagai contoh nyata, mayoritas pasokan kedelai di Indonesia saat ini didatangkan lewat jalur impor. Pelemahan mata uang otomatis menaikkan harga jual produk olahan kedelai di pasar domestik.
"Kita melihat bahwa dampak dari pelemahan mata uang rupiah, ini semua harga-harga itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
>>> BWF Rilis Peringkat Terbaru Pebulu Tangkis Indonesia usai Malaysia Masters 2026
Nah kenaikan inilah yang membuat masyarakat menjerit," papar Ibrahim.
Risiko Ekonomi dan Inflasi
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai ada risiko ekonomi masif jika nilai tukar dolar AS melambung tinggi.
Biaya logistik atau transportasi pengiriman barang akan ikut membengkak, meningkatkan modal produksi, dan mempercepat kenaikan harga di tingkat retail konsumen.
"Nah efek dari ekonomi Indonesia kalau dolarnya menembus Rp 18.000, yang jelas transmisi antara biaya bahan baku dan biaya produksi yang naik kepada harga-harga retail di level masyarakat dan rumah tangga akan semakin cepat gitu," kata Bhima.
Menurutnya, para pelaku usaha biasanya mencoba menahan harga jual produk selama beberapa bulan demi menjaga daya beli.
Namun, ketika nilai tukar merosot terlalu tajam, penyesuaian daftar harga harus segera dilakukan.
"Tadinya ada lag ya, misalnya 2-3 bulan, tapi sekarang semakin melemah maka pelaku usaha juga akan mengganti price list atau daftar harga barang-barang yang dijual lebih cepat lagi," papar Bhima.