⌂ Beranda News Merombak Trikotomi: Mengatasi Kelembaman Historis-Struktural Ekonomi

Merombak Trikotomi: Mengatasi Kelembaman Historis-Struktural Ekonomi

Merombak Trikotomi: Mengatasi Kelembaman Historis-Struktural Ekonomi
Ilustrasi trikotomi struktur ekonomi Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Indonesia berada pada persimpangan penting: apakah transformasi ekonomi nasional mampu mengoreksi ketimpangan lama, atau sekadar menghadirkan aktor baru dalam tatanan yang sama?

Pertanyaan ini mengemuka di tengah percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan penguatan Danantara sebagai instrumen strategis pengelolaan aset negara.

>>> F4 Gelar Konser Tiga Hari di Jakarta Pusat, Tiket Habis Terjual

Menurut Jerry Marmen, Ketua Lembaga Sertifikasi GRC, Komisaris Utama KB Bank, dan Dosen FEB UPN Veteran Jakarta, pembahasan mengenai negara, Danantara, konglomerasi swasta, koperasi, dan UMKM tidak dapat dilepaskan dari trikotomi struktur ekonomi Indonesia yang terus berulang sejak era prakolonial, kolonial, hingga saat ini.

Kelembaman Historis-Struktural

Jerry mengajukan hipotesis kelembaman historis-struktural, yaitu kecenderungan struktur ekonomi nasional mereproduksi pola ketimpangan dan jalur ketergantungan struktural meskipun tampil dalam bentuk dan aktor berbeda.

Pola trikotomi telah terlihat sejak era kerajaan prakolonial: raja-raja besar sebagai pusat kekuasaan ekonomi, raja-raja kecil sebagai penguasa ekonomi teritorial, dan rakyat jelata sebagai basis produksi di lapisan terbawah.

Memasuki era kolonial Belanda, struktur tersebut direkonstruksi secara lebih sistematis.

Penguasa kolonial mengambil alih posisi raja-raja besar, elite ekonomi Timur Asing mendominasi distribusi perdagangan, sementara pribumi tetap berada di lapisan terbawah sebagai tenaga kerja dengan akses terbatas.

Pascakemerdekaan hingga kini, struktur trikotomi belum sepenuhnya berubah. Pemerintah menggantikan pemerintah kolonial sebagai pusat pengendali ekonomi, dengan BUMN dan Danantara sebagai instrumen strategis.

Elite ekonomi Timur Asing bertransformasi menjadi konglomerasi swasta yang mendominasi kapital dan akses sumber daya.

Sementara itu, rakyat kecil termanifestasi dalam koperasi dan UMKM yang masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan, teknologi, dan skala usaha.

Jerry menekankan bahwa dari perspektif struktur dan konfigurasi pelaku ekonomi, pola trikotomi tersebut belum melebur. Aktor dan institusi berubah, tetapi struktur dasar distribusi kekuasaan dan ekonomi relatif bertahan.

>>> Anker Luncurkan Nano USB-C Hub dengan Layar 240Hz, Bisa Pantau Aktivitas Real-Time

Hipotesis ini selaras dengan pemikiran Gunnar Myrdal dalam Asian Drama (1968) yang menjelaskan bahwa negara berkembang kerap terjebak dalam lingkaran setan.

Sebelumnya, J.

H. Boeke dalam Economics and Economic Policy of Dual Societies (1953) telah menguraikan keterbelahan antara sektor ekonomi modern dan tradisional.

Memutus Lingkaran Setan

Salah satu penyebab utama bertahannya kelembaman adalah terkonsentrasinya penguasaan sumber daya ekonomi secara lintas generasi.

Akses terhadap kapital, teknologi, pendidikan, dan pengaruh kebijakan tidak terdistribusi seimbang, sehingga kelompok dominan terus memperluas dominasinya.

Jerry menganalogikan kondisi tersebut seperti inersia dalam fisika. Struktur trikotomi bertahan karena adanya friksi statis dan kinetis seperti oligarki, patronase, korupsi, dan lemahnya tata kelola.

Perubahan hanya mungkin jika terdapat energi yang menghasilkan resultan gaya lebih besar dari gaya yang mempertahankan tatanan lama.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru