⌂ Beranda News Penurunan Angka Menyusui Sebabkan Lonjakan Kematian Anak Akibat Campak

Penurunan Angka Menyusui Sebabkan Lonjakan Kematian Anak Akibat Campak

Penurunan Angka Menyusui Sebabkan Lonjakan Kematian Anak Akibat Campak
Ibu menyusui bayi untuk mencegah campak
A A Ukuran Teks16px

Penurunan angka ibu menyusui memicu kekhawatiran global setelah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit menular pada anak, termasuk campak.

Air Susu Ibu (ASI) terbukti memegang peran vital dalam memberikan proteksi dini pada masa awal kehidupan bayi.

>>> Polisi Massachusetts Peringatkan Lonjakan Penipuan Kripto Lewat Kios Bitcoin

Krisis kesehatan ini melanda Bangladesh.

Dalam periode 24 jam, tercatat minimal enam anak meninggal dunia dan sebanyak 1.517 anak lainnya terinfeksi atau menunjukkan gejala klinis campak.

Secara kumulatif sejak 15 Maret, fatalitas akibat campak di negara tersebut telah mencapai 459 kasus dari total 65.613 kasus infeksi.

Pemerintah setempat kini didesak untuk segera mengambil tindakan konkret guna menekan angka penyebaran.

Data Biro Statistik Bangladesh menunjukkan tren penurunan angka pemberian ASI eksklusif untuk bayi di bawah usia enam bulan.

Angka ini merosot dari 62,6 persen pada 2019 menjadi 56,6 persen pada 2025.

Praktik inisiasi menyusui dini atau pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah persalinan juga mengalami penurunan tajam.

Angkanya turun dari 46,6 persen menjadi hanya 30,4 persen di tengah melonjaknya infeksi campak.

>>> Bank of Korea Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 2,5 Persen

Hampir separuh dari total kasus kematian akibat campak menimpa bayi berumur di bawah sembilan bulan.

Fase usia tersebut merupakan periode di mana bayi belum memenuhi syarat untuk menerima vaksin campak rutin.

Dari total 60 kematian campak yang sudah terkonfirmasi, sebanyak 29 kasus terjadi pada bayi yang belum genap berusia sembilan bulan.

Otoritas medis menilai kondisi fatal ini berhubungan langsung dengan penurunan angka menyusui.

Sistem kekebalan tubuh bayi pada awal kehidupan sangat bergantung pada antibodi alami yang disalurkan ibu lewat ASI.

Ketiadaan asupan ASI yang memadai membuat sistem imun anak melemah dan rentan terhadap infeksi.

Fungsi Antibodi Alami dalam ASI

ASI murni memuat beragam komponen antibodi yang berfungsi memproteksi bayi dari risiko infeksi akut, mulai dari campak, diare, hingga pneumonia.

>>> Platense Kalahkan Corinthians 2-0, Lolos ke Babak 16 Besar Copa Libertadores

Kandungan ini menjadi perisai alami tubuh dalam menghalau paparan virus dan bakteri.

Riset medis di Nigeria mengindikasikan bahwa volume transfer antibodi campak melalui ASI memiliki keterbatasan.

Dari sekitar 35,4 persen sampel ASI yang mengandung antibodi campak, hanya sekitar 16,8 persen yang berhasil masuk ke sistem peredaran darah bayi.

Meski transmisi antibodi tersebut terbatas, peran ASI tetap tidak dapat digantikan dalam memberikan proteksi tambahan bagi bayi.

Tanpa pemenuhan ASI, sistem pertahanan tubuh anak tidak akan mampu menangkal serangan virus secara optimal.

"Jika seorang anak tidak mendapatkan ASI, itu berarti anak tersebut tidak hanya kehilangan antibodi tetapi juga nutrisi dan banyak manfaat kesehatan lainnya," kata Wakil Rektor Universitas Kedokteran Bangladesh, Nazrul Islam.

Atas dasar itu, program menyusui secara intensif sangat direkomendasikan minimal selama enam bulan pertama.

Kandungan antibodi dari ibu membantu mematangkan sistem imun anak sebelum mereka bisa menerima proteksi penuh dari vaksinasi.

>>> Independiente Santa Fe Kalahkan Peñarol di Copa Libertadores

Faktor Pemicu Penurunan Angka Menyusui

Penurunan angka menyusui dipengaruhi oleh faktor sosial, fasilitas, hingga kebijakan yang belum berjalan maksimal. Berikut adalah beberapa faktor utamanya:

  • Promosi susu formula yang agresif memengaruhi keputusan para ibu. Rekomendasi produk alternatif oleh tenaga kesehatan membuat ibu lebih cepat menghentikan pemberian ASI.
  • Tingginya angka persalinan caesar berdampak negatif pada keberlanjutan praktik menyusui. Ibu yang menjalani operasi caesar memerlukan masa pemulihan klinis yang lebih lama, sehingga menghambat inisiasi menyusui dini.
  • Ketersediaan ruang laktasi yang higienis dan nyaman di area kerja maupun fasilitas publik masih sangat terbatas. Kendala infrastruktur ini menyulitkan para ibu, khususnya kelompok pekerja, untuk memberikan ASI secara konsisten.
A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru