⌂ Beranda News Fosil Baru Homo habilis Memicu Perdebatan Ulang Asal-usul Manusia

Fosil Baru Homo habilis Memicu Perdebatan Ulang Asal-usul Manusia

Fosil Baru Homo habilis Memicu Perdebatan Ulang Asal-usul Manusia
Ilustrasi fosil Homo habilis
A A Ukuran Teks16px

Silsilah awal umat manusia kembali dipertanyakan setelah penemuan kerangka baru Homo habilis. Spesies yang pertama kali dimasukkan dalam silsilah pada tahun 1964 ini kini menjadi pusat perdebatan.

Para ilmuwan baru mendeskripsikan empat kerangka fosil Homo habilis. Temuan terbaru yang lebih lengkap dipublikasikan pada Januari 2026.

>>> Profesor IPB Ungkap Alasan Daging Kurban Tidak Boleh Dicuci Sebelum Disimpan

Anatomi kerangka keempat ini sangat berbeda dengan manusia modern. Kondisi itu memicu spekulasi mengenai keabsahan status Homo habilis sebagai leluhur awal manusia.

Perdebatan Status Homo habilis

Penemuan ini memperluas perdebatan tentang batasan pengelompokan makhluk purba ke dalam genus Homo. Bernard Wood, ahli paleoantropologi di George Washington University, mengatakan definisi genus Homo mungkin terlalu diperluas.

Evolusi genus Homo terjadi setelah garis keturunan manusia dan simpanse terpisah lebih dari 5 juta tahun lalu. Namun, makhluk awal setelah pemisahan tidak menyerupai manusia modern.

Australopithecus afarensis, dikenal melalui kerangka Lucy, memiliki otak kecil dan lengan panjang seperti kera.

Spesies yang hidup di Afrika sekitar 3,9 juta hingga 2,9 juta tahun lalu itu jarang dianggap sebagai manusia.

>>> Lion Air Group Buka Rute Makassar-Kuala Lumpur, Perkuat Konektivitas Internasional

Sebagian besar antropolog secara historis memasukkan Homo habilis ke dalam genus manusia. Kerangka pertama ditemukan di Tanzania pada era 1960-an dengan perkiraan usia 1,75 juta tahun.

Fosil awal memiliki ukuran otak sekitar 45% dari kapasitas otak manusia modern.

Volume ini lebih besar dari rata-rata otak australopithecine yang hanya 35%, sehingga dinamai Homo habilis atau manusia terampil.

Fosil Homo habilis berusia 2 juta tahun yang dideskripsikan pada 2026 memperumit teori yang ada. Struktur fisik fosil menunjukkan lengan panjang menyerupai kera.

Ian Tattersall, ahli paleoantropologi American Museum of Natural History, mengatakan kondisi itu sangat mirip australopith. Ia berargumen Homo habilis seharusnya tidak dimasukkan ke dalam genus manusia.

Pandangan serupa didukung Mark Collard, arkeolog dari Simon Fraser University. Wood dan Collard mengusulkan spesies ini dipindahkan ke genus yang sama dengan Lucy, menjadi Australopithecus habilis.

>>> Barista Bagikan Tips Menyeduh Kopi Rumahan Agar Tidak Terlalu Pahit

Tattersall menilai Homo habilis harus memiliki genus sendiri karena ukuran otak dan giginya mirip manusia.

Perubahan nama dinilai belum mendesak oleh sebagian peneliti. Carol Ward, antropolog University of Missouri, mengatakan proporsi anggota tubuh mirip kera tak selalu memberi banyak informasi.

Nenek moyang awal manusia banyak menghabiskan waktu di atas pohon setelah terpisah dari simpanse. Struktur lengan panjang penting untuk bertahan hidup sebelum mulai berjalan di daratan.

Meskipun kebutuhan memanjat pohon berkurang, spesies awal genus Homo diduga masih mempertahankan lengan panjang. Karakteristik ini menetap karena belum ada tekanan evolusi kuat untuk mengubah ukuran lengan.

Penyebab pasti menyusutnya lengan pada periode berikutnya belum diketahui. Beberapa ahli berasumsi lengan pendek memberikan efisiensi gerak saat berlari dan menggunakan alat.

>>> Polres Pekalongan Kota Tangkap Pimpinan Ponpes Terkait Kekerasan Seksual

Ward menyebut kerangka H. habilis justru mendukung gagasan transisi bertahap dari australopith ke Homo.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru