Makam Putri Cempo di Kota Solo ternyata berada di dua lokasi berbeda. Kedua makam tersebut terletak di tanggul kawasan Tirtonadi dan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mojosongo.
Meski mengusung nama yang sama, kedua makam ini memiliki latar belakang kisah tutur serta nilai historis yang jauh berbeda.
>>> Menteri Keuangan Sebut Pelemahan Rupiah Tak Masuk Akal
Asumsi masyarakat sering mengaitkan nama Putri Cempo dengan istri Raja Majapahit, Prabu Brawijaya.
Namun, secara historis anggapan tersebut dianggap tidak masuk akal.
Sejarawan sekaligus Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, menyebut hal itu lebih condong pada fenomena cocoklogi dalam folklor masyarakat Jawa.
"Putri Cempo yang banyak dipahami masyarakat itu kan yang dikaitkan dengan Majapahit, dengan Brawijaya.
Tapi kalau untuk yang di Solo dikaitkan dengan itu, secara historis jelas tidak masuk akal," kata Dani, Selasa (26/5/2026).
Makam Tirtonadi: Kisah Selir Berdarah Cina
Makam Putri Cempo di pinggir sungai kawasan Tirtonadi lebih populer karena letaknya yang strategis.
>>> Resep Semur Daging Sapi Kentang Empuk Meresap untuk Hidangan Idul Adha
Cerita tutur di Mangkunegaran menyebut makam ini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang penari berdarah Cina dari era Keraton Kartasura.
Penari tersebut merupakan selir Paku Buwono (PB) II yang kemudian disisihkan. Pangeran Mangkunegoro atau ayah Raden Mas Said terpikat dan ingin menikahinya, namun ditolak Ibunda Raja.
"Karena bersikeras dan menolak tawaran putri lain, tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk perlawanan politis hingga akhirnya Pangeran Mangkunegoro Sepuh dibuang ke Afrika Selatan sampai meninggal dunia," terang Dani.
Nasib si selir Cina berakhir tragis. Atas perintah Ibunda Raja, dia dibunuh dan jenazahnya dihanyutkan di Sungai Pepe.
Jenazah tersebut kemudian tersangkut dan dimakamkan di area yang kini menjadi aliran Kali Anyar, kawasan Tirtonadi.
Penggunaan nama 'Cempo' tak lepas dari kebiasaan orang Jawa zaman dulu yang menggeneralisir perempuan berdarah asing.
>>> Michael Olise Picu Kontroversi Jelang Piala Dunia 2026
"Orang Jawa zaman dulu itu sering kali menyebut orang-orang perempuan yang berdarah Cina itu sebagai orang Campa atau Cempo," jelas Dani.
Makam Mojosongo: Kisah Lisan dari Era Mataram Islam
Sementara itu, Makam Putri Cempo di kawasan TPA Mojosongo cenderung kurang jelas garis sejarahnya.
Terdapat kemungkinan cerita lisan berdasarkan tulisan Profesor Purbotjaroko mengenai folklor dari era awal Mataram Islam.
"Dulu ada tulisan dari Profesor Purbotjaroko menyebutkan bahwa bapaknya pendiri dinasti Mataram, bapaknya Panembahan Senopati yang bernama Ki Ageng Pemanahan itu dulu pernah dititipi selir oleh Sultan Hadiwijaya Raja Pajang yang merupakan putri dari Cina," ujar Dani.
Cerita ini ditegaskan murni sebagai tradisi lisan, bukan berdasarkan fakta sejarah yang terverifikasi. Terkait keberadaan jasad di kedua lokasi, hingga kini belum dapat dipastikan secara pasti.
Hal ini dikarenakan kebiasaan masyarakat Jawa zaman dulu yang kerap membuat penanda menyerupai kijing atau nisan di bekas tempat singgah atau petilasan tokoh besar sebagai bentuk monumen penghormatan.
>>> Larangan Menjual Daging Kurban dan Mengupah Jagal dengan Daging
"Jadi kita sulit membedakan apakah ini nisan kuburan atau nisan petilasan," pungkas Dani.