Indonesia Investment Authority (INA) mengalokasikan dana sekitar Rp22,35 triliun untuk pengembangan infrastruktur digital kecerdasan buatan (AI).
Langkah ini diumumkan pada Selasa (26/5/2026) di tengah tren global ekspansi pusat data.
>>> IHSG Melemah 12 Poin, Tiga Saham Prajogo Pangestu Justru Melonjak
Jumlah tersebut merupakan 30 persen dari total dana kemitraan INA yang mencapai Rp74,5 triliun.
INA adalah Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia yang mengelola aset total senilai Rp142,33 triliun.
Lembaga ini telah merampungkan sejumlah kesepakatan komersial di sektor teknologi digital.
Salah satu langkah konkret adalah penyuntikan modal dalam putaran pendanaan DayOne Data Centres Ltd., perusahaan bentukan GDS Holdings Ltd. asal China.
>>> Finale Musim Ketiga Tracker Raih 16,5 Juta Penonton
Proyeksi dan Fokus Investasi
Menurut Moody’s Ratings, arus modal global ke infrastruktur pusat data diperkirakan menembus US$3 triliun dalam lima tahun ke depan.
Chief Investment Officer INA, Christopher Ganis, menyatakan sektor digital kini menjadi salah satu dari lima fokus utama INA.
"Banyak perkembangan AI berasal dari luar Indonesia, hal itu tidak berarti kami akan mengabaikan tren tersebut," ujar Ganis.
Manajemen optimis lonjakan adopsi AI akan menguntungkan Indonesia secara makro lewat pendirian pusat riset.
>>> Honda City Sedan Facelift Meluncur dengan Desain Lebih Agresif dan Fitur Modern
Portofolio INA saat ini mencakup fasilitas pusat data dengan kapasitas rencana 74 megawatt (MW) yang okupansinya sudah terisi penuh.
Mengenai persaingan teknologi AS-China, INA memilih bersikap netral di tengah dunia multipolar.
Ganis menambahkan bahwa pelaku industri global tetap melihat Indonesia sebagai pasar strategis untuk produktivitas dan perluasan pasar.
Terkait gejolak politik Timur Tengah, INA memastikan operasional pusat data aman karena berada di kawasan industri khusus dengan jaminan pasokan listrik.
>>> Dua Lipa Rilis Film Konser dan Album Live dari Final Tur Meksiko
Ke depan, porsi pendapatan INA dari dividen saham pemerintah diproyeksikan menyusut seiring dominasi imbal hasil investasi mandiri.