⌂ Home › News › China Boroskan Rp232 Triliun demi Otak Robot Humanoid
News

China Boroskan Rp232 Triliun demi Otak Robot Humanoid

Ilustrasi robot humanoid dengan kecerdasan buatan
A A Text Size16px

Pengembang kecerdasan buatan untuk robot di China menghimpun 93,5 miliar yuan atau sekitar USD13 miliar (Rp232,7 triliun) pada semester I-2026.

Angka itu lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data firma riset ITjuzi.

Dana tersebut tersebar dalam 322 kesepakatan dan semakin banyak mengalir ke pengembang kecerdasan robot, bukan hanya pabrikan perangkat keras.

Setelah bertahun-tahun memamerkan robot humanoid yang piawai berlari, menari, dan salto, perusahaan China kini memburu otak agar mesin itu berguna di lebih banyak pekerjaan.

Persaingan Otak

Persaingan harga menekan laba perangkat keras, sehingga pabrikan mencari arah baru.

Pendiri konsultan teknologi ZenGen Labs di Shanghai, Dermot McGrath, menilai keuntungan tidak akan datang dari perangkat keras, tetapi dari otak.

Pendiri bersama Spirit AI, Gao Yang, mengakui otak adalah mata rantai terlemah dalam seluruh susunan robotika.

Amerika Serikat unggul lewat Physical Intelligence, Skild AI, dan Generalist.

Model GEN-1.5 milik Generalist menuntaskan sekitar 60 persen tugas sederhana setelah melihat demonstrasi berdurasi 3 sampai 12 detik.

Sementara itu, X Square dari China menerbitkan riset robot yang menguasai keterampilan menangani benda dari satu video manusia tanpa melatih ulang model.

Modal pun mengalir deras. X Square, Galaxea, dan Spirit AI masing-masing bernilai sekitar USD3 miliar (Rp53,7 triliun).

UBTech, perusahaan tercatat di Hong Kong, membuka lowongan kepala ilmuwan model kecerdasan buatan dengan kompensasi hingga 124 juta yuan atau USD18 juta (Rp322,2 miliar).

Unitree di Hangzhou, salah satu pembuat robot humanoid terbesar dunia menurut volume pengiriman, memiliki sekitar 30 peneliti kecerdasan buatan.

Memburu Data Latih

Berbeda dengan chatbot yang belajar dari teks internet, robot membutuhkan contoh interaksi fisik, mulai dari menggenggam benda hingga menangani kabel lentur.

Spirit AI mempekerjakan sekitar 1.000 orang untuk merekam aktivitas harian dan industri sebagai data pelatihan.

About the Author
Anna Suleta

Anna Suleta

🔗 Related Post
📰 Latest Updates