Jumlah nasabah aktif perdagangan berjangka komoditi di Indonesia menembus 125 ribu pada Juli 2025. Angka itu naik 13,3 persen dari 110,3 ribu pada Juni 2025.
Kenaikan tersebut tercatat oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Pertumbuhan nasabah berjalan seiring melonjaknya nilai transaksi sepanjang 2025.
Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya memaparkan nilai nominal transaksi mencapai Rp48.867 triliun.
Nilai itu naik 49,8 persen secara tahunan dengan volume 14,56 juta lot atau naik 12 persen.
Peringatan Risiko dari Data Eropa
Di balik ramainya transaksi, produk berdaya ungkit tinggi menyimpan risiko besar.
Laporan Otoritas Pasar dan Sekuritas Eropa (ESMA) mencatat 74 hingga 89 persen trader ritel CFD dan valuta asing di Eropa merugi.
Data itu terbuka setelah ESMA pada Agustus 2018 mewajibkan broker mengungkap persentase nasabah yang merugi. ESMA juga membatasi daya ungkit hingga 30:1 untuk pasangan mata uang utama.
Temuan tersebut bukan potret nasabah Indonesia, tetapi memberi gambaran risiko pada produk leverage tinggi. Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya literasi bagi generasi muda dan mahasiswa.
Menurutnya, pemahaman itu diperlukan agar mereka mengenali risiko sekaligus potensi perdagangan berjangka.
