⌂ Home › News › Mengenal Nusa Penida: Sejarah Pulau Buangan hingga Pesona Pesisir
News

Mengenal Nusa Penida: Sejarah Pulau Buangan hingga Pesona Pesisir

Pemandangan pesisir Pulau Nusa Penida dengan laut biru
A A Text Size16px

Nusa Penida terletak di antara Bali dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gugusan tiga pulau—Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan—memiliki luas sekitar 200 km².

Pada masa lalu, kawasan ini dikenal sebagai tempat penyingkiran orang-orang bermasalah oleh raja-raja Bali. Namun, sejarah Nusa Penida ternyata lebih panjang dari itu.

Jejak Sejarah Sejak Abad ke-9

Sebuah prasasti batu bertahun saka 835 (913 M) di Desa Blanjong mencatat Nusa Penida sebagai wilayah kekuasaan Dinasti Warmadewa.

Raja Sri Wira Kesari Warmadewa disebut menggunakan pulau ini sebagai simbol kemenangan atas musuhnya di Gurun, yang diyakini para ahli sebagai Lombok.

Menurut penelitian sejarahwan Ida Bagus Sidemen dalam “Penjara di Tengah Samudra: Studi tentang Nusa Penida sebagai Pulau Buangan”, saat itu Nusa Penida telah dihuni orang-orang dari Lombok yang membangun pemerintahan.

Setelah ditundukkan, Bali menempatkan orang-orangnya untuk menempati pemerintahan di sana.

Pulau ini kemudian menjadi salah satu basis perdagangan daerah Bali.

Hubungan dagang dan pelayaran antara Nusa Penida dan Bali berlanjut hingga abad ke-11, dengan Bandar Ujung di Desa Ujung Hayang, Karangasem, sebagai salah satu bandar yang melayani pelayaran tersebut.

Transkripsi Prasasti Bali yang diterbitkan Lembaga Bahasa dan Budaya Universitas Indonesia menyebutkan bahwa hingga dekade pertama abad ke-17, Nusa Penida tetap menjadi penyangga perdagangan kerajaan-kerajaan di Bali.

Namun, ketika Bali dikuasai Dinasti Kresna Kepakisan pada abad ke-14, para penguasa Nusa Penida mulai menunjukkan itikad memerdekakan diri.

Terinspirasi oleh keindahan alam Nusa Penida, Emana Aruna menghadirkan 20 vila kontemporer di kawasan pesisir dengan pemandangan laut dan Gunung Agung.

About the Author
🔗 Related Post
📰 Latest Updates